Bekasi

RS Bella Bekasi Dianggap Lalai Tangani Pasien yang Dinyatakan Reaktif

Oleh: Admin Rabu 13 Mei 2020, 15:36 WIB
RS Bella, Bekasi Timur, Kota Bekasi. (www.rsbella.com)

BEKASI TIMUR, AYOJAKARTA.COM -- RS Bella, Bekasi Timur, diduga lalai menangani pasien yang dinyatakan reaktif dalam rapid test COVID-19.

Dugaan itu berangkat dari kasus seorang pria usia 50 tahun yang mendatangi Puskesmas Pejuang, Medan Satria, membawa surat rujukan untuk tes Polymerase Chain Reaction (PCR). 

Seorang dokter di Puskesmas tersebut mengatakan, tidak seharusnya rumah sakit membiarkan pasien reaktif yang hasil rapid test-nya reaktif bebas berkeliaran, bahkan tanpa memakai masker.

"Seharusnya pasien tidak disuruh datang sendiri. Bisa langsung diisolasi di rumah sakit, lalu dari sana mengontak Dinkes untuk tes PCR atau langsung ke RS rujukan. Pihak Dinkes yang akan mendatangi, bukan pasien yang disuruh jalan sendiri,” kata dokter tersebut kepada Ayobekasi, Rabu (13/5/2020).

Pasien itu datang ke Puskesmas Pejuang dengan diantar sang istri. Warga Taman Harapan Baru (THB) itu dinyatakan reaktif pada saat hendak menjalani hemodialisa (cuci darah) di RS Bella.

AYO BACA : Pria 50 Tahun Dinyatakan Reaktif, Datangi Puskesmas di Bekasi Tanpa Masker dan Berinteraksi dengan Pasien Lain

Setelah tahu ada orang yang diduga membawa virus corona datang ke tempatnya, Puskesmas Pejuang langsung menutup pelayanan dan melakukan disinfeksi. Para tenaga medis serta pasien lain diwajibkan mengisolasi diri. Tes PCR akan dilakukan terhadap mereka dalam 7 hari ke depan.

Kepala Puskesmas Pejuang, dr Hani Wijaya, menjelaskan bahwa pihaknya sudah melaporkan kejadian itu kepada Dinas Kesehatan Kota Bekasi.

“(Respons Dinkes) mau memberi teguran kepada RS Bella,” ujarnya.

Pejabat Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Bekasi juga menyayangkan dugaan ketelodoran RS Bella karena membiarkan pasien yang berpotensi menularkan virus corona ke petugas medis dan orang lain.

“Seharusnya, kalau ada kasus seperti itu, prosedurnya bisa langsung menghubungi rumah sakit rujukan agar kami bisa jemput si pasien,” ucap pejabat yang minta namanya dirahasiakan.

Reporter Admin
Editor Aldi Gultom