JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat hingga kini total ada enam dokter yang meninggal usai melayani pasien novel coronavirus (COVID-19).
Kabar terbaru menyebutkan dr. Adi Mirsa, dr Hadio dan dr. Djoko Judodjoko.
Adi meninggal dunia di RSUP Persahabatan, Sabtu (22/3) pukul 11.30 WIB. Ia berpraktik di RS Ananda Bekasi dan RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Sedangkan dr Hadio merupakan neurologist di RS Premiere Bintaro.
Sebelum juga dilaporkan salah satu dokter di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan meninggal pada Selasa (17/3/2020) lalu pukul 20.45 WIB.
"Dokter Adi Mirsa, dia memang habis melakukan pelayanan dan tertular. Beliau masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan juga meninggal, PDP," kata Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih seperti dilansir dalam wawancara dengan stasiun Metro TV, sesaat lalu (Minggu, 22/3/2020).
Begitu juga salah satu dokter Djoko yang keseharian bertugas di Rumah Sakit Bogor Medical Center (BMC), Jawa Barat.
AYO BACA : Status PDP, Dokter RS Swasta Bekasi Meninggal
"Beliau (dokter Djoko) dalam status PDP juga meninggal. Jadi tiga dokter ini melayani dan terkait pasien COVID-19," jelas Faqih.
Terkait jumlah tenaga yang terpapar virus corona, Faqih mengaku belum tahu persis datanya.
"Kami dengar persis dari Gubernur Pak Anies itu 22 yang disampaikan, tapi beberapa kawan di bawah beragam, ada yang mengatakan 23, ada yang mengatakan 32, ada yang masih diobservasi, ada yang sudah diisolasi, ada juga masuk ICU sudah dikasih ventilator, dan lain-lain," paparnya.
Untuk itulah PB IDI sudah meminta agar pemerintah setidaknya membuka data korban COVID-19. Hal ini penting mengingat tenaga medis setiap waktu menerima pasien.
"Kalau pasien yang datang ke petugas kesehatan di ujung tombak itu, kita tidak paham bahwa pasien ini pernah kontak dengan penderita atau dia pernah sakit sebenarnya, di data kita tidak tahu," tuturnya.
Terlebih dikhawatirkan petugas kesehatan itu tidak melakukan kewaspadaan yang cukup.
"Jadi gampang sekali tertular kalau kita tidak mengetahui, siapa-siapa saja yang sebenarnya positif tapi tidak memiliki gejala," imbuhnya.