Joko Susilo (57), seorang warga Perum Tytyan Kencana RT/RW 12/06, Kelurahan Margamulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, berhasil membuat sebuah alat pembakar sampah atau disebut incinerator.
Alat itu disebutnya berawal dari keinginan warga membereskan masalah sampah di lingkungan RT hingga incinerator diwujudkan secara swadaya, dengan nilai pembuatannya kurang lebih mencapai Rp150 juta.
"Pada tahun 2013, warga sepakat mengelola sampah dengan cara tidak membuang sampah ke Bantargebang (ke TPA), sampah kita selesaikan dengan cara warga sendiri. Terus kita sepakat mengembangkan incinerator," terang Joko kepada ayobekasi.net, belum lama ini.
Joko bercerita, awal adanya incinerator di lingkungan RT-nya ditempatkan pada sebidang tanah yang tidak terlalu luas berupa bedeng atau bangunan semi permanen. Namun akhirnya bedeng itu diubah permanen menjadi tempat pembuangan sementara (TPS) 3R hasil bantuan pemerintah provinsi.
"Tahun 2018 kita dapat bantuan dari Dinas PUPR Jawa Barat untuk mengembangkan infrastrukturnya dari bedeng menjadi bangunan permanen TPS 3R, senilai Rp350 juta," ungkapnya.
Bantuan itu tidak ujug-ujug datang tanpa ada hasil konkret dari alat pemusnahnya, yang juga sudah dikembangkan menjadi generasi ketiga. Hal itu bisa disebut sebagai apreasiasi lantaran alatnya kini dapat memusnahkan sampah per hari di lingkungan RT 150-200 kilogram per jam. Sedangkan untuk maksimalnya, alat itu dapat memusnahkan sampah hingga 1 ton.
Dia mengungkapkan, cara kerja alatnya cukup sederhana. Awalnya pihaknya menjemput sampah-sampah dari tiap rumah atau secara langsung warga menaruh sampah di TPS 3R. Selanjutnya sampah-sampah itu dipilah berdasarkan jenis maupun kondisinya.
Setelah rangkaian pemilahan, sampah kemudian dipadatkan melalui mesin press. Selanjutnya sampah itu siap dilumatkan menjadi abu melalui incineratornya yang maksimal dapat mengumpulkan suhu hingga 900 derajat.
Dia mengatakan, walau secara aturan memusnahkan sampah tidak direkomendasikan dengan cara dibakar, namun dirinya lewat serangkaian pengembangkan bisa menekan potensi bahaya sampah dibakar pada alatnya.
"Gas buangnya kita scrapping pakai peralatan, jadi emisinya kita semprot pakai air, terus partikel yang terbang yang terikat dengan air-air itu jatuh turun (hasil pembakaran menjadi air). Kita juga tes pH-nya (air buangan) ternyata normal. Jadi boleh dibuang di selokan, kecuali endapannya kita urug," papar Joko.
Joko mengatakan, alatnya itu telah mendapat apresiasi hingga mendapat predikat terbaik pada perlombaan di tingkat kota dan provinsi. Bahkan sebelum alat itu terlahir, Joko juga pernah merancang incinerator untuk rumah tangga dengan kapasitas kurang dari 10 kilogram.
Dia mengatakan, keberhasilannya membuat incinerator itu dilatari dari pekerjaan-pekerjaannya terdahulu yang kurang lebih mengetahui tentang ruang bakar. Sehingga untuk membuat desain, pemasangan, kebutuhan listrik, hingga pengaplikasian incinerator dirinya merasa dimampukan.
Kendati tiap daerah mempunyai cara tersendiri mengelola sampah lingkungan, Joko mengharapkan, terobosan warga di RT-nya turut menginspirasi. Mengingat juga, lanjut Joko, permasalahan sampah ibarat hajat hidup yang harus diselesaikan bersama-sama dan dengan seksama.
"Harapan kita ya bahwa sampah itu masalah kita semua, maka diharap peduli, sampah itu bagi kami adalah hajat, maka jadi tanggungjawab semua orang," tandasnya.