Bisnis

3 Sektor Usaha Ini Bantu Dongkrak Ekonomi 2021

Oleh: Admin Senin 23 Nov 2020, 18:46 WIB
ilustrasi perusahaan penyedia jasa telekomunikasi/ shutterstock

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Institute of Development of Economics and Finance (Indef) menyebut ketiga sektor usaha yang pertumbuhannya jauh di atas rata-rata 5% dapat berperan mendongkrak pemulihan ekonomi Indonesia pada 2021.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad mengatakan, ketiga sektor usaha tersebut dapat tumbuh sendiri di tengah pandemi Covid-19, bahkan tanpa bantuan ekspansi fiskal dari pemerintah.

“Ketiga sektor itu adalah informasi dan komunikasi, jasa perusahaan, dan jasa lainnya,” kata Tauhid dalam webinar di YouTube Indef, Senin (23/11/2020).

Tauhid melanjutkan, ketiga sektor tersebut dalam proses pemulihan ekonomi nasional tidak akan terlalu membutuhkan banyak sentuhan pemerintah, tetapi mereka akan dominan menjadi pusat atau proses yang cepat dalam mengembangkan ekonomi Indonesia pada 2021.

AYO BACA : PENCAIRAN BLT TERMIN 2 TAHAP 5: Prediksi Cair ke BNI, Mandiri, Mungkinkah Hari Ini? 9 Cara Ini Pastikan Status Penerima!

Selain ketiga sektor usaha tersebut, Tauhid juga memprediksi beberapa sektor lainnya yang berpotensi tumbuh pada 2021, terutama sektor konstruksi, sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan air, sampah, limbah, dan daur ulang. Jenis sektor ini menurutnya hanya membutuhkan sedikit insentif dari pemerintah.

Tak hanya itu, Tauhid juga mengungkapkan sejumlah sektor lainnya yang membutuhkan dukungan khusus pemerintah. Pasalnya, sektor-sektor ini memiliki multiplier yang besar, namun termasuk dalam kategori yang masih cukup berat untuk kembali bangkit.

“Sektor pertambangan dan penggalian, itu saya kira masih relatif kecil. Industri pengelolaan masih butuh support untuk balik normal. Real estate saya kira masih relatif rendah,” ungkapnya.

Indef, lanjut Tauhid, memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 terjadi perbaikan mencapai 3% dan 2020 diproyeksi mencapai kontraksi 1,35%. Hal ini disebabkan faktor pandemi yang masih memberikan dampak terhadap ekonomi tahun depan dan tetap menahan belanja kelas menengah ke atas.

AYO BACA : Berpotensi Menaikkan Angka Covid-19, Jokowi Minta Libur Panjang Akhir Tahun Diperpendek

“Dampaknya, laju kredit perbankan hanya tumbuh di 5% hingga 6% dari normal 9% hingga 10%,” kata Tauhid.

Selain itu, ketersediaan vaksin Covid-19 yang pada semester II Tahun 2021 diperkirakan baru berjalan dan didistribusikan secara terbatas juga mempengaruhi ekonomi RI. 

“Permintaan belum normal, dampaknya bahwa proses pertumbuhan ekonomi masih tertahan,” tukasnya.S

Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 minus 3,49%. Hal ini menjadikan Indonesia resmi terjun ke jurang resesi setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

“Ekonomi Indonesia pada kuartal III secara tahunan (yoy) masih mengalami kontraksi sebesar 3,49%,” jelas Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, Kamis (5/11/2020) lalu.

Kendati demikian, Suhariyanto mengatakan, jika dibanding pencapaian di kuartal II 2020, pertumbuhan nasional masih tumbuh lebih bagus di kuartal III 2020, sehingga secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I hingga kuartal III 2020 itu masih mengalami kontraksi sebesar 2,03%

Suhariyanto menambahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal III yang minus 3,49% juga masih lebih baik dibanding kuartal II yang terkontraksi 5,32%. “Artinya terjadi perbaikan dan tentunya kita berharap di kuartal IV situasi akan menjadi membaik. Apalagi dengan adanya pelonggaran PSBB,” ujarnya.

AYO BACA : PENCAIRAN BLT GURU HONORER KEMENDIKBUD: Hindari 4 Hal Ini Biar Gak Gagal Cair! Lapor ke Sini Jika Ada Kendala

Reporter Admin
Editor Fitria Rahmawati