Bisnis

Omzet Kue Basah Khas Bogor saat Pandemi Turun Drastis

Oleh: Admin Senin 31 Agu 2020, 17:11 WIB
Omzet penjualan kue basah turun drastis selama pandemi Covid-19. (Ayobogor/Husnul Khatimah)

BOGOR TENGAH, AYOJAKARTA.COM -- Bogor dikenal banyak orang dengan aneka ragam sajian kulinernya. Mulai dari kuliner modern hingga tradisional dapat dengan mudah ditemukan di Bogor.

Salah satu kuliner tradisional bogor yang tak lapuk oleh zaman adalah kue basah. Penganan satu ini tetap diminati banyak orang dan menjadi menu wajib saat hajatan.

Banyak pedagang kue basah di Kota Bogor namun yang patut dicoba adalah kue basah Dedie di Jalan Suryakenca yang telah berjualan sejak tahun 1998.

Dedie, pemilik kue basah Dedie mengatakan tokonya menyediakan banyak aneka kue basah khas Bogor dan aneka kue dari berbagai daerah di nusantara. Di toko ini Anda juga bisa menemukan kue yang sulit ditemukan di pasaran seperti kue sangkolun.

"Sangkolun terbuat dari tepung beras di dalamnya ada kelapa, zaman sekarang ini susah dicari sudah langka," ujar Dedie kepada ayobogor.com, Senin (31/8/2020).

Selain kue sangkolun Dedie juga menyediakan wajit, biji ketapang, kue ladu, celorot, kue cincin dan kue basah lainnya.

"Harganya kita jual mulai dari Rp3.500 hingga Rp13.000 tergantung kuenya," kata Dedie.

Dedie menceritakan awal mula terjun ke bisnis kue basah bermula saat dirinya habis kontrak di tempat ia bekerja. Saat itu seorang teman Dedie menyarankan untuk berbisnis kue basah.

Dia kemudian mencoba menjajakan kue basah buatannya di Jalan Suryakencana. "Saya coba sedikit demi sedikit, Alhamdulillah lama-lama jadi banyak dan mulai ada langganan," katanya.

Seiring berjalannya waktu toko kue basah Dedie kemudian berkembang hingga akhirnya dia bisa mempekerjakan 3 orang karyawan. Saat bisni makin lancar Dedie pun menambah menunya dengan memberdayakan produk kue basah Paguyuban UMKM Bogor.

Meski tidak menyebutkan omzet yang dia dapat tiap harinya namun hasil berbisnis kue basah disebut Dedie cukup untuk menghidupi keluarga dan 3 orang karyawannya.

Namun kini di saat pandemi pendapatan yang diterima Dedi jauh menurun. Dia mengaku omzet yang didapat karena terdampak pandemi menurun hingga 50%.

"Selama Covid-19 terdampak sekali, orang yang belanja berkurang sehingga omzet menurun bahkan bisa setengahnya jika dibandingkan sebelum ada Corona, jauh sekali turunnya," katanya.

Menurut Dedie turunnya omzet disebabkan selain berkurangnya pelancong yang berkunjung ke Kota Bogor juga karena berkurangnya pesanan untuk acara seperti hajatan.

"Karena kita memang pelanggannya banyak dari luar kota juga seperti jakarta dan banyak pesanan-pesanan untuk pesta atau hajatan, sekarang setelah ada Corona pesanan berkurang jauh," katanya.

Turunnya omzet yang dia dapat juga membawa dampak terhadap paguyuban UMKM makanan yang biasa ia pesan sebab kini dia mengurangi untuk menerima pasokan kue dari paguyuban tersebut.

"Mudahan kedepannya kembali normal, harapan kami pemerintah pun bisa menanggani Covid-19 sehingga ekonomi bisa pulih kembali, jualan normal kembali karena dampaknya terasa banget dari segi ekonomi," kata Dedie.  

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono