PURWAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Wilayah Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, masih didominasi perkebunan.
Di perkebunan itu banyak terdapat pohon aren menjulang tinggi yang tidak disia-siakan warga sekitar menjadikan nilai ekonomi.
Selain buahnya diproduksi menjadi kolang-kaling, air pohon aren juga dapat diolah menghasilkan nilai ekonomi.
Seperti dilakukan Ujang Aeful (47), ia mengaku sudah sejak lama mengolah air pohon aren dijadikan gula kemudian dijual.
Produksi air pohon aren merupakan profesi turun temurun dari nenek moyang terdahulu.
AYO BACA : Banyak UMKM di Daerah Tak Tahu Pemasaran Via Digital
"Saya membuat gula aren sejak kecil, awalnya belajar dari orang tua kemudian memulai produksi sendiri sampai sekarang," kata warga Kampung Hegarmanah Desa Pasirmunjul itu, Rabu (8/7/2020).
Teknik pembuatan gula aren diawali dengan menyadap air dari pohon aren, nira hasil sadapan kemudian direbus selama 4 hingga 5 jam tergantung banyaknya nira yang dimasak di atas tungku perapian.
Jika air nira sudah berubah warna ke merah-merahan kemudian diambil sedikit lalu dimasukan ke dalam air untuk memastikan tingkat kematangan.
"Kalau sudah matang kemudian dituangkan ke dalam citakan terbuat dari bambu. Jika sudah kering gula dibungkus menggunakan daun pisang kering dan diikat, gula aren pun siap dipasarkan. Satu bungkus gula aren saya jual Rp10.000," ujar Ujang.
Dalam sehari, ia mengaku hanya mampu memproduksi air nira dijadikan gula aren paling banyak 120 liter. Lalu 24 liter nira hanya dapat menghasilkan empat buah gula aren.
AYO BACA : Gitar Karya Penyandang Disabilitas Asal Tasikmalaya Terbang Ke Australia
"Setiap harinya tidak bisa ditentukan, tergantung banyaknya nira yang dihasilkan, karena setiap pohon aren berbeda-beda," ucap dia.
Dalam proses pembuatan gula aren, bukan berarti Ujang tak menemui kendala. Dia mengaku sering terkendala dalam hal pemasaran dan sulit juga kayu bakar.
"Masalah penjualannya itu sulit karena gak ada pemasarannya, ditambah lagi kalau kayu bakar di kebun sendiri habis, terpaksa harus beli," kata dia.
Ia sangat berharap pada peran serta aparat desa atau pemerintah daerah untuk dapat memperhatikan para pembuat gula aren agar tetap bertahan.
"Intinya sih pemasaran yang harus dibantu itu," tutur Ujang berharap.
Sementara itu, Kepala Desa Pasir Munjul, Muhamad Hilman Nurzaman menanggapi terkait keluhan dari pembuat gula aren terutama masalah pemasarannya.
Menurut Hilman, pihak desa telah berupaya berkoordinasi dengan balai latihan kerja (BLK) untuk menyambungkannya agar gula aren ini menjadi ikon yang bisa muncul di wilayah Pasirmunjul.
"Kami mencoba bekerja sama melalui BUMDes terkait gula aren untuk dapat diperjualbelikan ke lintas daerah bukan hanya di Purwakarta," kata Hilman. (Dede Nurhasanudin)
AYO BACA : Kemenperin Tingkatkan Kompetensi Penyuluh IKM di Daerah