BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Salah satu hal yang identik dengan Kota Bandung adalah banyaknya kafe yang menjadi titik temu bagi warga untuk nongkrong dan menyesap kopi. Budaya ngopi sembari berbincang dengan teman-teman tersebut. Sayangnya belakangan ini harus berhenti karena pandemi.
Kebijakan Work From Home, physical distancing dan larangan untuk membuka kafe kecuali untuk pesan antar jelas memengaruhi pendapatan harian kafe-kafe tersebut. Seperti yang dialami sebuah kafe di Jalan Cirebon, Dejima Kohii.
Kafe yang telah berdiri selama tiga tahun tersebut saat ini tengah mengalami kemerosotan omzet. Manajer Operasional Dejima Kohii, Budi Hermawan mengatakan bahwa setidaknya penurunan pendapatan telah terjadi sejak akhir Maret.
"Ngedrop banget, semenjak aturan WFH berlaku. Penurunan pendapatan secara keseluruhan bisa sampai 300%," ungkapnya ketika dihubungi, Minggu (10/5/2020).
Dia mengatakan, pendapatan terbesar kafe tersebut selama ini berasal dari para konsumen yang memesan kopi untuk diminum di tempat. Dejima Kohii juga tidak menyediakan kudapan lain disamping minuman kopi dan cokelat.
Jam operasional pun dipangkas demi keamanan pegawai. Sehingga, pihaknya harus memutar otak untuk mempertahankan bisnis tersebut. Caranya adalah dengan memproduksi es kopi susu dalam skala liter.
"Kopi literan ini bikinnya cukup mendadak sih, sekarang sudah berjalan sekitar 1 bulan. Kami berharap penjualan ini bisa memperbaiki keadaan finansial kita," ungkapnya.
Dejima Kohii hingga saat ini memproduksi dua jenis kopi berukuran satu liter, es kopi susu standar dan es kopi cokelat stroberi. Masing-masing dikemas dalam botol plastik yang terbilang cukup praktis untuk dibawa konsumen melalui layanan pesan-antar.
"Perbedaannya dengan kopi di cup ada di es-nya. Kalau literan dibuat tanpa es, jadi tantangannya bagaimana membuat rasa kopinya tetap seimbang," ungkap Budi.
Es kopi tersebut dibanderol di kisaran Rp85.000-Rp90.000 per-liter. Dia mengatakan saat ini penjualan es kopi literan tersebut cukup membantu bisnisnya untuk berjalan, meskipun kembali tersendat di bulan Ramadhan.
"Bukan hanya saat pandemi, sejak awal kalau di bulan Ramadhan, flow memang turun. Karena kita hanya menjual kopi, tidak ada menu lain. Ini masih jadi tantangan," ungkapnya.
Strategi serupa juga saat ini tengah dijalani berbagai kafe lainnya. Sebut saja nama-nama kafe yang tengah digandrungi warga Bandung saat ini, seperti Yumaju Coffee, Kopi Toko Djawa, Kuro Coffee, dan sebagainya. Sebagian juga membuka penjualan di e-commerce untuk memudahkan pengiriman.
Salah satu pelanggan kopi literan, Fidhiah Shabrina (24) mengatakan kopi jenis tersebut memudahkannya untuk menikmati es kopi favorit selama pandemi. Nongkrong di kafe menyeruput es kopi sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari selama ini.
"Memang dasarnya saya penyuka es kopi susu, hampir setiap hari minum. Selama pandemi gini tiba-tiba jadi enggak bisa ngopi di kedainya lagi kan, jadi kemasan ini lebih praktis," ungkapnya pada Ayobandung.com, jaringan AyoMedia.
Dia mengaku menyukai terobosan kopi literan tersebut karena dinilai lebih awet dibanding harus membeli 1 cup coffee setiap harinya. Satu liter kopi bisa dihabiskan Fidhiah dalam waktu satu minggu.
"Harganya terbilang lebih hemat juga, kalau di cup rata-rata harganya Rp20.000-Rp30.000, kalau literan ada di kisaran Rp70.000-Rp100.000, lebih terjangkau," ungkapnya. (Nur Khansa)