BANDUNG, AYOJAKARTA.COM – Turunnya omzet dan sepinya permintaan barang, membuat sejumlah pelaku usaha konfeksi di Kota Bandung memilih banting setir membuat alat pelindung diri (APD). Hal tersebut dilakukan untuk menyiasati kerugian yang dialami, akibat wabah Covid-19.
Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Aziz Abdillah. Aziz mengaku, usaha konfeksinya telah mengalami penurunan omzet sejak Maret lalu. Puncaknya awal April, omzetnya menurun hingga 90%. Hal itulah yang melatarbelakangi Aziz bersedia memproduksi APD untuk tenaga medis.
“Berhubung adanya pandemi corona ini orderan tuh langsung sepi pas sudah masuk bulan April sekarang tuh. Tapi dari Maret juga sudah lumayan 50%, penurunan omzetnya udah kerasa,” kata Aziz saat dihubungi Ayobandung.com, jaringan Ayo Media, Selasa (14/4/2020).
Aziz bercerita, pada awalnya menerima tawaran dari rekannya di Kalimantan untuk memproduksi APD. Melihat kesempatan itu, akhirnya dia bersedia untuk membantu rekannya tersebut, mengingat usaha konfeksinya pun sedang sepi permintaan. Dari situlah Aziz mulai beralih memproduksi APD di usaha konfeksinya.
AYO BACA : Rizal Ramli: Awal yang Bagus Pak Jokowi, Akui Ekonomi RI Nyungsep Akibat COVID-19
Setelah melakukan survei terhadap bahan dasar dan mencaritahu bagaimana proses pembuatan baju APD, di minggu pertama produksi, Aziz mencoba membuat 200 buah APD, yang mana 70% di antaranya telah habis terjual.
“Untuk respons pembuatan APD lumayan, dari 200 pcs itu 70%-nya sudah sold out,” ungkapnya.
Aziz mengungkapkan, kendala dari pembuatan APD adalah dari harga bahan baku. Sebab, menurutnya harga bahan bakunya teus mengalami kenaikan. Hal itu disinyalir karena permintaan bahan baku yang semakin banyak.
“Ada juga bahan baku harganya lumayan mahal untuk sekarang dari harga biasanya yang kalau normal paling Rp11.000 sekarang sudah Rp14.000 permeternya,” terang Aziz.
AYO BACA : Upaya Pelaku Usaha Untuk Tetap Bertahan dan Bangkit di Tengah Pandemi COVID-19
Instansi Kesehatan
Untuk konsumennya, Aziz memprioritaskan APD buatannya dipasarkan kepada sejumlah instansi kesehatan dan para tenaga medis yang membutuhkan. Sebab, dia pun tidak ingin APD-nya disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu.
“Saya coba tawarin juga ke pihak-pihak puskesmas yang kenal, yang ada temannya bekerja di instansi kesehatan, saya coba tawarin gitu dulu. Jadi sebelum ke orang, ke instansi kesehatannya dulu yang lebih butuh,” kata Aziz.
Kendati demikian, sebenarnya Aziz juga masih menerima pembelian APD secara satuan, namun jumlahnya terbatas. Sebab ke depannya, Aziz hanya akan menerima permintan pre-order, dan tidak menyediakan barang jadi. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi kerugian apabila produksi APD-nya tidak berjalan lancar.
“APD riskan juga sih, misalkan kalau abis ini kan saya sistemnya PO. Takutnya bahan baku udah semakin mahal, takutnya gak laku juga. Jadi tidak mau ambil risiko buat ready stock. Jadi PO aja, gimana adanya pemesanan baru diproduksi,” ungkapnya.
Sebenarnya, Aziz juga sudah pernah memproduksi masker kain. Namun, produksi tersebut dihentikan karena Aziz mulai kesulitan mendapatkan bahan baku. Selain itu, masker kain pun sudah mulai mudah ditemukan dipasaran, sehingga Aziz memilih untuk menghentikan produksinya.
“Soalnya sebelum APD juga pernah memproduksi masker dari bahan kain juga. Tapi sudah di-setop, soalnya bahannya juga sudah langka, terus sudah lumayan banyak masker sekarang di pasaran, makannya di setop dulu. Sedangkan stok yang sudah jadi juga masih ada, makannya sekarang ke APD,” ujarnya. (Vina Elvira)
AYO BACA : Dapat Relaksasi Kredit di Situasi Sulit, Pelaku UMKM Merasa Terbantu