JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Harga properti yang terus melambung membuat daya beli masarakart akan hunian baru kian menjauh. Terlebih kaum milenial yang tinggal dan bekerja di Jakarta yang memiliki penghasilan di tentang Rp6 juta- Rp7 juta.
Indonesia Property Watch (IPW) menilai saat ini masyarakat lebih memilih untuk menyewa hunian dibandingkan membeli terutama di kota-kota besar. Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda mengatakan generasi milenial di kota-kota besar, seperti di Jakarta, lebih senang menyewa dibandingkan membeli properti.
"Hasil survei kami sekitar 47,4 persen pilih tinggal di kos-kosan, kemudian sebanyak 47,1 persen berkeinginan untuk tinggal di apartemen, sedangkan sisanya memilih tinggal di kediaman keluarga atau saudara," ujarnya, Jumat (7/2/2020).
AYO BACA : Ini Sosok Penerus Takhta Steve Jobs
Berdasarkan hasil survei IPW, penghasilan rata-rata kaum milenial berkisar Rp6 juta-Rp7 juta per bulan artinya mereka hanya mampu membeli properti dengan cicilan Rp2 juta- Rp2,5 juta per bulan atau seharga Rp200 juta-300 juta. Rentang harga tersebut sulit untuk mereka mendapatkan properti di Jakarta.
"Itu sebabnya, milenial lebih memilih menyewa apartemen atau kosan," ucapnya.
Menurutnya, saat ini ada sebanyak 39,9 persen kaum milenial tinggal di kos atau apartemen dengan besaran sewa di bawah Rp2 juta per bulan. Lalu sebanyak 38,5 persen menyewa dengan harga Rp2-3 juta per bulan dan sebesar 21,6 persen menyewa dengan harga di atas Rp3 juta per bulan.
AYO BACA : Balita Meninggal Gara-gara Ibu Percaya Hoax Grup Anti Vaksin
Besarnya pasar kosan di kota-kota besar ini diakui oleh PT Hoppor International. Perusahaan yang dikenal dengan nama Kamar Keluarga mengatakan setiap tahun tren penyewa kosan terus tumbuh.
CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan selama dua tahun berdiri, Kamar Keluarga kini telah memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi di Jabodetabek dan Bandung.
"Kami akan terus melihat setiap potensi pengembangan bisnis kosan. Hal ini untuk menjawab kebutuhan pasar,” ujarnya.
Selain mendirikan kos sendiri, Kamar Keluarga juga membuka peluang kepada para pemilik aset berupa tanah atau properti mengganggur untuk dijadikan produktif dan menghasilkan passive income.
"Sistemnya bagi hasil, Kamar Keluarga akan menjadikan lahan atau bangunan tidak produktif menjadi kamar kos atau hunian co-living. Nantinya pemilik akan mendapat uang sewa jangka panjang 10 tahun hingga 25 tahun," ucapnya.
AYO BACA : Dokter Yang Pertama Memperingatkan Corona Meninggal Dunia