Bisnis

Gandeng Pertamina Patra Niaga JBB, Kelompok Kampung Sirih Mandiri Finansial Berkat Bisnis Ecoprint

Oleh: Gita Esa Hafitri Rabu 03 Jun 2026, 15:18 WIB
Gandeng Pertamina Patra Niaga JBB, Kelompok Kampung Sirih Mandiri Finansial Berkat Bisnis Ecoprint

AYOJAKARTA.COM -- PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB), melalui unit kerja Soekarno Hatta Aviation Fuel Terminal and Hydrant Installation (SHAFTHI), membuktikan komitmen nyatanya.

Perusahaan energi nasional ini sukses menggelar Pelatihan Ecoprint bagi warga binaan di Kampung Sirih pada Selasa, 2 Juni 2026, yang bertempat di kawasan Serpong, Tangerang Selatan.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina tidak sekadar memberikan bantuan stimulan yang bersifat sementara.

Sebaliknya, mereka menanamkan investasi keterampilan jangka panjang yang mampu mengubah bahan-bahan alami di sekitar pemukiman menjadi produk fashion eksklusif berdaya jual tinggi.

Agenda intensif ini bukan merupakan proyek rintisan yang berdiri sendiri, melainkan sebuah program berkelanjutan dari pelatihan ecoprint yang telah sukses terlaksana pada tahun 2024 lalu.

Pertamina Patra Niaga merancang program jilid dua ini dengan target yang lebih tajam, yaitu menaikkan kelas kemampuan para perajin lokal agar mampu menghasilkan produk dengan standar pasar modern.

Pelatihan kali ini melibatkan 20 peserta aktif yang merepresentasikan berbagai kelompok pemberdayaan di Kampung Sirih. Selama lokakarya berlangsung, para peserta mendapatkan bimbingan teknis yang sangat komprehensif.

Materi pelatihan meliputi penguasaan teknik dasar pelekatan warna daun (ecoprinting), eksplorasi pembuatan motif estetis menggunakan dedaunan lokal, hingga strategi pengembangan produk turunannya.

Manager Soekarno-Hatta Fuel Terminal & Hydrant Installation, Ady Hafriady, menegaskan bahwa perusahaan memikul tanggung jawab moral untuk ikut serta menggerakkan roda perekonomian wilayah sekitar.

Pihaknya sengaja membidik sektor industri kreatif karena memiliki daya tahan yang kuat terhadap gejolak ekonomi global.

Ady memandang bahwa pemanfaatan potensi tanaman lokal yang dipadukan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan akan melahirkan ekosistem bisnis yang sehat dan mandiri.

"Kami menaruh harapan besar agar masyarakat Kampung Sirih mampu menguasai keahlian baru ini melalui pelatihan ecoprint. Keterampilan ini tidak hanya berfungsi menjaga kelestarian alam sekitar, tetapi juga menciptakan celah bisnis kreatif yang efektif untuk mendongkrak tingkat kesejahteraan finansial keluarga," urai Ady secara optimistis.

Pemilihan teknik ecoprint sebagai materi utama pemberdayaan tentu tidak terjadi secara kebetulan. Metode pewarnaan kain alami ini dinilai sangat selaras dengan konsep tata ruang dan budaya Kampung Sirih yang selama ini konsisten mengedepankan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Teknik ini memanfaatkan zat warna alami dari daun, bunga, atau batang melalui proses pengukusan, sehingga tidak menghasilkan limbah kimia berbahaya yang dapat mencemari sumber air warga.

Dari tangan terampil para peserta, selembar kain polos bertransformasi menjadi aneka produk fashion bernilai ekonomi tinggi, seperti jilbab, baju formal, hingga kain corak etnik yang eksklusif.

Ketua Kelompok Kampung Sirih, Alex Eko Setiawan, melayangkan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim CSR Pertamina yang senantiasa mendampingi dan memfasilitasi kebutuhan warga tanpa henti.

"Kegiatan pelatihan ini sukses membuka cakrawala baru bagi warga dalam memproduksi barang-barang kreatif yang berbasis kelestarian lingkungan. Kami sangat berharap keahlian yang telah kami serap ini dapat bertransformasi menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, sekaligus mengukuhkan branding Kampung Sirih sebagai kawasan yang berkomitmen penuh terhadap perlindungan alam," tutur Alex.

Area Manager Communication, Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional JBB, Susanto August Satria, menjelaskan bahwa esensi dari program mitra binaan ini adalah menciptakan dampak ekonomi berantai (multiplier effect).

Dengan memanfaatkan daun-daun yang berguguran atau tanaman liar di sekitar pekarangan rumah, warga tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk membeli bahan baku pewarna buatan.

Model bisnis zero-waste inilah yang berusaha diinjeksikan Pertamina ke dalam sistem perekonomian warga Serpong.

"Agenda ini merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan untuk mendampingi komunitas lokal secara konsisten lewat program kemitraan. Berbekal keterampilan yang telah dikuasai, kami memproyeksikan masyarakat mampu memproduksi karya-karya kreatif bernilai jual tinggi, yang pada akhirnya mendatangkan profit ekonomi secara konsisten dan berkelanjutan," papar Satria.

Melalui konsistensi pelaksanaan program pemberdayaan di Kampung Sirih ini, PT Pertamina Patra Niaga Regional JBB menaruh harapan besar terhadap penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat setempat.

Perusahaan berkomitmen penuh untuk mengawal komunitas ini agar mampu tumbuh menjadi inkubator bisnis ekonomi kreatif yang mandiri dan memiliki jangkauan pasar yang luas.

Lebih dari sekadar program filantropi lokal, langkah nyata yang diinisiasi oleh SHAFTHI ini merupakan kontribusi konkret badan usaha milik negara dalam mendukung pencapaian agenda pembangunan global atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Program ini secara spesifik menyasar dua target utama, yaitu SDGs Poin 1 tanpa kemiskinan dan poin 8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Reporter Gita Esa Hafitri
Editor Gita Esa Hafitri