Bisnis

Pindang Cukanggenteng Naik Kelas! Ibu-Ibu Nasabah PNM Mekaar Disuntik Modal dan Ilmu Kemasan Kreatif!

Oleh: Gita Esa Hafitri
Pindang Cukanggenteng Naik Kelas! Ibu-Ibu Nasabah PNM Mekaar Disuntik Modal dan Ilmu Kemasan Kreatif!

AYOJAKARTA.COM -- Sektor perikanan darat dan olahan rumahan di wilayah Kabupaten Bandung menyimpan aset ekonomi yang sangat besar jika mendapat sentuhan manajemen modern. Salah satu wilayah yang menjadi sentra produksi potensial adalah Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu.

Potensi olahan ikan bandeng dan industri ikan pindang di kawasan ini menjadi motor penggerak ekonomi yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi kehidupan masyarakat setempat.

Awalnya, pelaku usaha lokal mengelola bisnis ini sebagai industri rumahan skala kecil untuk menyokong ekonomi keluarga prasejahtera. Namun kini, produk olahan ikan tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang secara masif.

Syarat utamanya adalah pembukuan keuangan yang rapi, kepemilikan legalitas usaha yang sah, desain kemasan yang memikat pembeli, serta ketersediaan akses permodalan yang fleksibel.

Melihat peluang emas tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kedua instansi ini meluncurkan program inkubasi untuk mendongkrak daya saing para pengusaha ultra mikro, terutama kelompok ibu-ibu yang menjadi nasabah PNM Mekaar. Program pemberdayaan ini sengaja bergulir sebagai momentum perayaan Hari Kelautan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Juli 2026.

Aparatur desa menyambut baik pelaksanaan program klasterisasi ini demi meningkatkan taraf hidup warganya. Aula Desa Cukanggenteng, Pasirjambu, penuh oleh 80 peserta yang terdiri atas kombinasi nasabah aktif PNM Mekaar serta pelaku usaha non-nasabah yang ingin mengembangkan bisnis mereka.

Program ini mengintegrasikan berbagai keahlian dari lintas sektoral untuk memberikan pendampingan yang menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Para peserta mendapatkan bekal materi yang sangat komprehensif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Jawa Barat hadir untuk memberikan edukasi mengenai literasi keuangan, sementara manajemen PNM memaparkan skema pembiayaan modal usaha yang aman.

Di sisi lain, tim ahli dari KKP mengurus proses kurasi perizinan dagang sekaligus melakukan penilaian terhadap kapasitas omzet harian para pengrajin pindang.

Sebagai pelengkap, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung menyajikan materi mengenai teknik pemasaran (branding) serta pembuatan packaging atau kemasan kreatif.

Melalui program pembinaan terpadu ini, pemerintah tidak hanya mengajari para pengusaha tentang cara memisahkan uang pribadi dan uang modal, tetapi juga menuntun mereka agar produk olahan ikan lokal tersebut mampu menembus jaringan pasar ritel yang lebih luas.

Salah seorang perwakilan pengrajin olahan ikan yang ikut serta dalam program klasterisasi tersebut mengaku bahwa materi pelatihan ini mengubah sudut pandangnya dalam mengelola bisnis harian.

"Kami terbiasa menjalankan aktivitas perdagangan secara monoton, di mana fokus utama kami hanya berkisar pada proses produksi dan memastikan barang dagangan laku terjual di pasar. Melalui kegiatan pembinaan ini, kami akhirnya menyadari betapa krusialnya mengarsipkan setiap dana masuk, mengurus legalitas usaha, serta mendesain ulang bungkus produk agar konsumen lebih menaruh kepercayaan. Kami berharap bisnis ikan pindang ini dapat melesat maju sehingga mampu mencukupi segala keperluan rumah tangga," urai peserta tersebut.

Sinergi ini tidak berhenti pada acara seremoni semata, melainkan berlanjut pada rencana aksi nyata di lapangan. Sebagai langkah konkret pasca-pelatihan, Kementerian Kelautan dan Perikanan berkomitmen untuk menggelar bimbingan teknis berkala yang berfokus pada literasi keuangan serta pemantapan pembukuan kas usaha.

Pada saat yang sama, tim pendamping dari PNM akan mengawal para ibu-ibu pengusaha secara langsung untuk menerbitkan Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan memanfaatkan fasilitas di Mall Pelayanan Publik terdekat.

PT Permodalan Nasional Madani menegaskan bahwa esensi dari program kemitraan ini adalah melahirkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan di tingkat keluarga. Pemberian modal berupa uang tunai tidak akan memberikan dampak jangka panjang jika tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas keilmuan para pengusahanya.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani, Kindaris, menyatakan bahwa integrasi antar-lembaga ini merupakan strategi bersama untuk memberikan fondasi bisnis yang kokoh bagi para pelaku usaha di tingkat bawah.

"Lembaga kami memandang bahwa aktivitas pemberdayaan tidak boleh mandek pada urusan penyaluran dana pinjaman semata. Kelompok ibu-ibu pelaku usaha wajib mendapatkan pengawalan intensif agar mereka memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan, mengantongi izin resmi, meningkatkan mutu bungkus produk, serta memiliki mentalitas yang kuat untuk memasarkan produknya ke cakupan pasar yang lebih luas. Saat industri berskala kecil di ruang domestik mampu bergerak naik kelas, maka buah manisnya akan langsung dirasakan oleh keluarga dan masyarakat di sekeliling mereka," tegas Kindaris.

Langkah taktis yang ditempuh oleh PNM, KKP, beserta pemerintah daerah ini menjadi cetak biru (blueprint) ideal bagaimana alokasi anggaran negara dan program pemberdayaan dapat bekerja sinergis.

Dengan memperkuat posisi legalitas dan kemasan, pindang Cukanggenteng kini bersiap merambah pasar swalayan dan mengangkat derajat ekonomi para perempuan prasejahtera di Kabupaten Bandung.

Reporter Gita Esa Hafitri
Editor Gita Esa Hafitri