Bogor

Di Pasar Ciampea Baru Bogor Tahu Tempe Langka, di Bekasi Harga Daging Sapi Mulai Naik

Oleh: Redaksi Kamis 24 Feb 2022, 13:30 WIB
Ilustrasi pedagang tempe-tahu.

BOGOR, AYOJAKARTA.COM- Kenaikan harga kedelai mulai berimbas dengan kelangkaaan komoditi berupa tahu serta tempe di pasaran. Salah satunya di Pasar Bogor.

Langkanya tahu tempe tidak terlepas dari mogoknya para perajin karena naiknya harga kedelai.

Pantauan wartawan di lokasi pasar, tahu dan tempe langka jarang dijajakan oleh para penjual. Karena imbas dari kenaikan harga kedelai dan mogoknya para pengrajin.

Salah seorang pembeli, Rismawati (38) warga Kecamatan Ciampea, mengaku kesulitan untuk mencari pedagang tahu dan tempe di pasar tradisional.

“Tadi udah keliling juga, ditempat biasa saya beli aja gaada, susah juga cuman buat beli tahu sama tempe,” katanya kepada wartawan, Rabu (23/2/2022).

Baca Juga: Perhatian! Pekan Ini Perajin Tahu Tempe di Bogor Bakal Mogok Produksi Massal 3 Hari, Ada Apa?

Melansir SuaraBogor.id-jaringan Ayojakarta.com, Kamis (24/2), Rismawati mengatakan, langkanya kebutuhan pangan seperti tahu dan tempe harus bisa segera diatasi oleh pemerintah, hal ini tentu tak boleh dibiarkan berlarut-larut.

“Harapan saya semoga semuanya stabil, tidak susah seperti sekarang, mau beli tahu dan tempe saja susah,” imbuhnya.

Harga daging sapi naik
Di Bekasi, saat ini harga daging sapi juga dilaporkan mulai merangkak naik. Warga Bekasi saat ini tidak hanya mengalami kelangkaan dan kenaikan tahu tempe saja, harga daging sapi di Pasar Baru Bekasi sudah tiga hari ini mengalami kenaikan.

Bahkan, kenaikan harga daging sapi tersebut sudah terjadi pada tiga hari lalu.

Pedagang daging sapi, Ali mengatakan, kini daging sapi dijual dengan harga Rp135-130 ribu perkilogram. Sebelumnya, daging sapi dijual kisaran harga Rp115 ribu perkilogram.

"Kita gak tahu harganya bisa naik. Beli dari sana kita beli sudah harga Rp125 ribu perkilogram," kata Ali dikutip dari SuaraBekaci.id-jaringan Ayojakarta.com.

Menurutnya, dengan kenaikan harga daging sapi ini membuat omset penjualan menurun 50 persen.

Baca Juga: Sampai Lebaran 2022, Pemprov DKI Jakarta Bakal Impor 2.500 Ton Daging Sapi

Pasalnya kenaikan ini membuat daya beli masyarakat menjadi turun.

"Karena tahu harganya naik pada kaga jadi beli, pada milih beli daging ayam. Omset jadi turun," tandas dia.

Reporter Redaksi
Editor Rahajeng Pramesi