Bogor

Rencana Pembukaan Wisata Malam Kebun Raya Bogor Dikritik

Oleh: Yogi Faisal Senin 27 Sep 2021, 19:11 WIB
Ilustrasi: Rencana Pembukaan Wisata Malam Kebun Raya Bogor Ditentang Para Pendahulu Kebun Raya Bogor. (Dok Instagram Glow Kebun Raya)

KOTA BOGOR, AYOJAKARTA - Rencana pembukaan program wisata malam 'Glow' di Kebun Raya Bogor menuai kritik pedas dari para mantan Kepala Kebun Raya Bogor Indonesia.
 
Bahkan, mantan kepala Kebun Raya Bogor itu yakni Prof. Dr. Made Sri Prana, Prof. Dr. Usep Soetisna, Dr. Ir. Suhirman, Prof. Dr. Dedy Darnaedi, dan Dr. Irawati, membuat surat terbuka berjudul 'Menjaga Marwah Kebun Raya' sebagai bentuk protes komersialisasi Kebun Raya Bogor.
 
Sejumlah pimpinan KRB itu mengkritisi penyelewengan tugas pokok dan fungsi Kebun Raya Bogor, yang dianggap sudah melenceng jauh dari marwahnya sebagai tempat edukasi dan konservasi.
 
"Berdasarkan pengamatan kami, dan adanya masukan dan keluhan melalui media sosial dari berbagai lapisan masyarakat, kami merasa berkewajiban untuk meneruskannya kepada pimpinan yang secara struktur erat dengan tata kelola Kebun Raya Indonesia saat ini," tulis kelimanya dalam surat terbuka, Senin 27 September 2021.
 
Secara umum konsep Kebun Raya Bogor mengusung lima tugas dan fungsi penting. Yakni sebagai tempat konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, wisata Ilmiah, dan terakhir jasa lingkungan. 
 
Karena itu berbagai kegiatan dan program yang dikembangkan di Kebun Raya Indonesia selalu berpegang pada kelima tugas dan fungsi Kebun Raya tersebut, yang sekaligus sebagai marwah Kebun Raya.
 
Kebun Raya Bogor yang sudah berumur lebih dari dua abad dalam sejarah panjangnya selalu mengedepankan pendekatan ilmiah dan memperhatikan masalah konservasi dan lingkungan. Kemudian, berbagai kegiatan dan usaha yang dilakukan KRB selalu mempertimbangkan kelima fungsi tersebut. 
 
"Bahkan saat melakukan kegiatan usaha penggalangan dana sekalipun, Kebun Raya tidak silau pada keuntungan sesaat, dan selalu memilih green business yang sifatnya enviriomentally friendly," ucapnya.
 
Masih dalam surat terbuka itu, setelah kemerdekaan dan dikelola oleh putra Indonesia, Kebun Raya lebih mengedepankan pendidikan, penelitian dan kegiatan explorasi serta konservasi, menyelamatkan tumbuhan, dengan tidak memperhitungkan nilai bisnis. 
 
Bisnis Kebun Raya yang dilakukan saat itu, terbatas hanya dengan menjual tiket masuk Kebun Raya dengan harga sangat murah dibanding tempat lainnya. 
 
"Karena memang Kebun Raya bukan Taman Rekreasi, Kebun Raya adalah lembaga ilmiah yang berperan menahan laju kepunahan jenis tumbuhan. "Banyak tawaran kerja sama yang ditolak oleh Kebun Raya saat itu, karena tidak sesuai dengan marwah Kebun Raya," imbuhnya.
 
Dari beberapa alasan tersebut, dalam surat terbuka itu memuat point penting yang menjadi catatan untuk penyelamatan KRB.
 
Pertama, rencana GLOW membuat atraksi sinar lampu di waktu malam, berpotensi merubah keheningan malam Kebun Raya. Selain itu, nyala dan kilau lampu dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan hewan dan serangga penyerbuk. 
 
Nature Communication melaporkan, penggunaan lampu berlebihan di waktu malam akan mengganggu perilaku dan fisiologi serangga penyerbuk, nokturnal maupun diurnal. 
 
Lebih jauh Knop et al (2017), melaporkan bahwa kunjungan polinator berkurang sampai 62 persen pada komunitas tumbuhan yang diteliti, dan pada tumbuhan tertentu menyebabkan terjadinya penurunan produksi buah sebanyak 13 persen. 
 
"Kita belum mengetahui secara pasti kehidupan malam serangga penyerbuk tumbuhan tropika, namun dampak yang sama besar kemungkinan akan terjadi di Kebun Raya," katanya.
 
Kemudian, point kedua, jalan setapak yang tersusun oleh batu kali khas Kebun Raya Bogor kini di banyak bagian telah dicor dengan semen. 
 
Tidak hanya mengurangi keindahan jalan batu gico, tapi juga mengurangi resapan air. Sehingga air yang tidak meresap mengalir di selokan dan langsung menuju sungai. Akibatnya volume sungai akan meningkat. "Besar kemungkinan akan berkontribusi pada luapan sungai penyebab banjir di Jakarta," katanya.
 
Menurutnya, .emelihara ekohidrologi di Kebun Raya sangatlah penting dan sudah lama dilakukan dengan mengurangi jumlah bangunan dan menggantinya dengan koleksi tumbuhan. 
 
Sesuai dengan Peraturan LIPI no. 4 th 2019 tentang Pembangunan Kebun Raya, batas luas maksimal pembangunan fisik (pengerasan lahan) di Kebun Raya Bogor adalah 20 persen dari luas total Kebun Raya. 
 
Dengan pengecoran jalan batu gico, dan pemadatan di berbagai tempat diperkirakan akan melebihi batas maksimal 20 persen. Berkurangnya resapan air juga dikhawatirkan mempengaruhi debit 5 mata air alami di Kebun Raya Bogor.
 
Selain itu, Perpustakaan Kebun Raya dengan berbagai buku tua “antiquarium” merupakan napas penting peneliti, yang sekarang dipindahkan ke gedung lain yang jauh dari Kebun Raya. 
 
Hal ini sangat mungkin mengganggu kegiatan peneliti dan kunjungan mahasiswa, dan peneliti luar yang perlu akses ke buku-buku dan informasi penting Kebun Raya. 
 
"Menjauhkan buku dan sumber informasi dari keseharian peneliti Kebun Raya adalah kebijakan yang tidak mendorong meningkatnya riset, sekaligus menjauhkan munculnya inovasi kreatif para peneliti," ucapnya.
 
"Banyak hal lain, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Namun secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan itu kami nilai sudah ke luar dari Tupoksi Kebun Raya, dan semakin jauh dari marwah Kebun Raya," sambungnya.
 
Mantan pimpinan Kebun Raya Bogor itu juga meminta agar meninjau kembali rencana GLOW di Kebun Raya, yang pasti akan mengusik keheningan malam Kebun Raya dan mengganggu fungsi serangga polinator dan hewan penyerbuk lainnya.
 
"Sebaiknya segera dihentikan pembangunan fisik termasuk pengecoran jalan gico yang akan mengurangi resapan air yang diperlukan oleh tumbuhan, dan untuk usaha mengurangi kontribusi air penyebab banjir di Jakarta," ucapnya.
 
Kemudian, perlu evaluasi atas kerja sama yang dilakukan dengan melibatkan unsur lain yang terkait dan memberi perhatian pada kekhususan KRB. Selain itu tentunya perlu meningkatkan kolaborasi dan sinkronisasi dengan bagian lain yang juga berada di dalam lingkungan Kebun Raya.
 
Langkah ini sangat diperlukan mengingat berbagai nilai historis dan fungsi strategis kebun Raya adalah modal penting dalam usaha mengusung Kebun Raya sebagai World Heritage, yang kini sedang dalam proses. 
 
"Kegiatan kerjasama dengan pihak manapun harus memberi dampak positif pada usaha pengusulan World Heritage tersebut," tutupnya.
 
Menanggapi hal itu, General Manager Corporate Communication & Security PT Mitra Natura Raya (MNR) Kebun Raya Bogor Zaenal Arifin mengaku belum bisa berkomentar banyak mengenai hal tersebut.
 
"Nanti dalam waktu dekat akan kami adakan pertemuan resmi dengan media soal permasalahan ini. Nanti kami akan siapkan pernyataan kami secara lengkapnya," ujar dia. 
Reporter Yogi Faisal
Editor Firda Puri