BOGOR TENGAH, AYOJAKARTA - Pemerintah Kota (Pemkot) terus berkomunikasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Balai Besar Teknik Perkeretaapian (BTP) Jawa Barat, terkait rencana pembangunan Stasiun Sukaresmi.
Jika dahulu wacana pembangunan stasiun sempat terganjal soal ketersediaan lahan. Kini permasalahan tersebut rampung diselesaikan. Lantaran Pemkot Bogor sudah menyiapkan lahan seluas 1,9 hektar di Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanahsareal sebagai calon lokasi pembangunan stasiun kereta baru di Kota Bogor.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor Rudy Mashudi mengatakan, pembangunan Stasiun Sukaresmi dinilai sangat penting untuk memecah mobilitas masyarakat yang hendak beraktivitas menggunakan kereta api. Ditambah lagi, jarak antara Stasiun Bogor dengan Stasiun Cilebut cukup jauh.
"Kalau ada Stasiun Sukaresmi tentunya ini bisa memecah jumlah penumpang. Jadi nanti warga dari Kecamatan Bogor Utara, Kecamatan Tanahsareal bisa naik dan turun di Stasiun Sukaresmi ini," katanya, Selasa 21 September 2021.
Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, dalam satu hari ada sekitar puluhan ribu hingga ratusan ribu penumpang kereta api yang naik dan turun di Stasiun Bogor. Sehingga perlu adanya pemecahan jumlah penumpang dengan mendirikan stasiun baru.
Rudy mengatakan, Pemkot Bogor juga telah melakukan pembebasan lahan dan pembangunan jalan. Di mana jalan tersebut nantinya akan menghubungkan Kelurahan Sukaresmi hingga Jalan Sholeh Iskandar.
Beberapa bulan lalu, sambung Rudy, Pemkot Bogor telah bertemu dengan petinggi urban transport dari PT KAI. Pertemuan itu merupakan bentuk komitmen Pemkot Bogor terkait pembangunan Stasiun Sukaresmi tersebut.
"Kewenangan pembangunan stasiun kereta kan ada di Kementerian Perhubungan dan PT KAI jadi kami tidak bisa bangun sendiri. Makannya kalau dulu sempat terkendala soal lahan, sekarang lahannya sudah kami siapkan tunggal pembangunannya saja," ujarnya.
Selain pembangunan Stasiun Sukaresmi, di atas lahan seluas 2,9 hektar tersebut rencananya akan dibangun juga Transit Oriented Development (TOD). Sehingga bisa mengundang swasta untuk bisa membangun dengan hitungan bisnis yang ada nantinya. Termasuk untuk mendukung alternatif yang ingin mennjadikan lahan tersebut menjadi rusunawa.
Jika demikian, tentu bisa mendukung konsep TOD. Di mana terdapat kawasan pemukinan dan swasta. Namun hingga kini, belum ada rencana penganggaran ataupun kajian Detail Engineering Design (DED). "Intinya kami masih mencoba berkomunikasi, dengan pihak terkait sambil menunggu kepastiannya seperti apa," tutupnya