Bogor

Kisah Pedagang di Puncak Bogor: Dapat Rp 50 Ribu Saja Sudah Sujud Syukur

Oleh: Admin Jumat 06 Agu 2021, 09:18 WIB
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puncak Cisarua Bogor, Teguh Mulyana (Yogi Faisal)

KABUPATEN BOGOR, AYOJAKARTA - Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak selama pandemi Covid-19. Bahkan, hampir seluruh lokasi wisata mesti tutup dan berhenti sementara demi menekan potensi penyebaran Covid-19.

Berhenti dan tutupnya sejumlah destinasi wisata, juga berimbas pada nasib masyarakat. Khususnya mereka yang benar-benar menggantungkan nasib dan hidupnya dari kunjungan dan kedatangan wisatawan. 

Puncak, Kabupaten Bogor contohnya. Daerah yang berada pada ketinggian rata-rata 1.800 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu kini tak seramai dulu jika dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19.

Kemacetan panjang yang sudah seakan menjadi identitas Puncak saat akhir pekan, kini tak lagi terjadi akibat diberlakukannya sejumlah pembatasan dan penyekatan mobilitas wisatawan. Alhasil, wilayah itu kini menjadi sepi.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puncak Cisarua Bogor Teguh Mulyana bercerita, hampir sebagian besar warga Puncak menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Baik sebagai pedagang, pengurus villa atau penginapan, hingga penjual oleh-oleh khas Puncak Kabupaten Bogor.

"Masyarakat Puncak ini kan banyak yang mencari nafkah dari pariwisata. Jadi kalau pariwisata terpuruk kami mencari nafkah bagaimana, karena selama ini kami mengandalkan dari kunjungan wisatawan. Sekarang wisatawan tidak ada, terus nasib kami bagaimana," katanya, Jumat 6 Agustus 2021.

Dia melanjutkan, selama pemberlakuan PSBB, PPKM Darurat, hingga PPKM Level 4, rata-rata pendapatan bersih para pedagang di kawasan Puncak tidak ada yang sampai Rp50 ribu rupiah dalam satu hari.

"Dulu sebelum Covid-19, rata-rata pendapatan bersih pedagang harian di Puncak itu Rp100 ribu per hari. Sekarang paling hanya Rp10 sampai Rp30 ribu. Kalau dapet Rp 50 ribu sudah sujud syukur saking sepinya," ujar dia. 

Lantaran itu, ratusan pedagang dan pengelola vila di kawasan Puncak sepakat memasang bendera putih. Pemasangan bendera putih tersebut dilakukan sebagai bentuk pesan masyarakat kepada pemerintah.

"Pemasangan bendera putih ini sebagai pesan kami kepada pemerintah bahwa kami ini ada. Ini juga sebagai pesan untuk pemerintah jika pariwisata saat ini sedang terpuruk. Bahkan, sekitar 20 persen para pedagang di Puncak gulung tikar karena imbas dari PPKM ini," katanya. 

 

Reporter Admin
Editor Firda Puri Agustine