BOGOR TENGAH, AYOJAKARTA.COM -- Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Komunitas Peduli Ciliwung berhasil menuntaskan ekspedisinya dalam waktu 16 jam dalam pengarungan sungai Ciliwung sepanjang 70 kilometer menggunakan perahu karet.
Pintu Air Manggarai, Jakarta, menjadi titik akhir ekspedisi Bima Arya dan tim setelah sebelumnya melintasi wilayah mulai dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok. Tidak sekedar pengarungan, ada misi yang ingin disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Bima mengaku sepanjang perjalanan pihaknya banyak mencatat titik pembuangan sampah dan limbah.
"Jadi, titik warga yang buang sampah di sungai kita catat. Dari Bogor sampai Depok ada 34 titik. Tapi dari Depok sampai Manggarai itu ada ratusan titik. Kemudian ada limbah yang dibuang langsung ke sungai, kebanyakan pabrik tahu. Dari Bogor sampai Depok ada 11 (pabrik tahu), dari Depok sampai Jakarta ada belasan juga,” ungkap Bima Arya, Rabu (12/11/2020).
AYO BACA : Dukung Penyelamatan Sungai, Bima Arya Arungi Sungai Ciliwung Bogor-Jakarta Sejauh 75 Kilometer
Bima Arya menyatakan bahwa Ciliwung ini adalah urusan bersama.
“PR-nya banyak, kerja bareng dari hulu ke hilir. Jadi, kesimpulannya kalau kita tidak serius, kalau kita tidak kerjasama, akan begini-begini saja. Ini lihat datanya. Ketika dari Depok ke Jakarta itu airnya semakin bau, semakin cokelat, semakin banyak kiri kanannya itu timbunan sampah, baik yang dibawa banjir maupun sampah dari warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai,” ujar Bima.
Di Kota Bogor, lanjut Bima, sudah melakukan sejumlah program terkait lingkungan. Selain menerapkan program pengurangan penggunaan kantong plastik di retail modern, juga membentuk Satgas Ciliwung.
“Kami melakukan apa yang bisa dilakukan di Kota Bogor. Ada Satgas Ciliwung yang tugasnya bersihkan sampah, normalisasi saluran air, edukasi kepada warga. Tapi data yang kami dapat ini akan kami sampaikan kepada kepala daerah masing-masing. Kelihatannya kita perlu banyak dibantu juga di wilayah Depok. Karena kalau Depok sampai Jakarta ini tergarap, banjir Jakarta akan jauh lebih berkurang,” terang Bima.
AYO BACA : Kabupaten Bogor Catat 28 Kasus Baru Covid-19
Selain itu, kata Bima, ada hal jauh lebih penting lagi, yakni membangun infrastruktur untuk membentuk kultur.
“Jadi kampung-kampung di situ dibangun IPAL-nya, dibangun sistem sampahnya, supaya orang tidak buang sampah sembarangan, tidak buang air sembarangan. Kan tidak mungkin melarang orang buang sampah tapi tempat sampahnya tidak ada, melarang warga buang air tapi IPAL-nya tidak dibangun. Ini PR kita. Dan kami ingin sampaikan juga kepada bapak Presiden, Kementerian PUPR, supaya Ciliwung ini diperhatikan betul,” jelas Bima.
“Ciliwung ini urusan bersama. Kalau kita serius di hulu tapi di hilirnya tidak, ya percuma. Serius di hilir tapi dihulunya tidak ya juga sama saja. Saya optimistis bisa karena banyak komunitas, banyak penggiat lingkungan hidup, banyak warga juga yang siap membantu, tadi pada semangat ya. Tinggal pemerintahnya mendorong,” imbuhnya.
Dalam pengarungan tersebut, diikuti 12 perahu karet dari Bogor ke Depok yang berisikan para penggiat lingkungan, seperti Komunitas Peduli Ciliwung dan Satgas Ciliwung serta didukung oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dan unit rescue dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Tiba di Depok, tim memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan ekspedisi hari kedua dari Depok menuju Pintu Air Manggarai, Jakarta. Pada hari kedua ini tim dibantu perahu bermotor untuk memudahkan pengarungan karena alirannya sangat datar. Sesekali perahu motor yang ditumpangi tim harus mati mesin karena tersumbat sampah. Hingga pada akhirnya tim tiba Pintu Air Manggarai.
AYO BACA : Sempat Zona Merah, Kelurahan di Bogor Kini jadi Kampung Aman Covid-19