Bogor

Menengok Petilasan Ciung Wanara di Bogor

Oleh: Admin Senin 01 Apr 2019, 05:44 WIB
Petilasan Ciung Wanara di Bogor (ayobogor.com/Husnul Khatimah)

BOGOR TENGAH, AYOJAKARTA.COM -- Tidak banyak yang tahu jika di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor terdapat sebuah tempat yang disebut sebagai petilasan Ciung Wanara. Ciung Wanara sendiri adalah cerita soal legenda penguasa tatar sunda pada masa kerajaan Galuh Purba.

Petilasan yang berada di samping taman palupuh atau belakang SMAN 7 Kota Bogor ini memang agak sulit ditemukan karena selain tidak adanya penunjuk arah ke lokasi, petilasan berada di tempat yang terbilang lenggang.

Saat ayobogor berkunjung ke petilasan, papan informasi yang menjadi satu-satunya penanda petilasan juga tidak terlihat jelas dari jalan yang ada di depannya. Selain tulisannya yang kecil juga tertutup oleh atap sebab bangunan petilasan berada agak rendah dari dataran posisi jalan.

Papan informasi berwarna putih dengan tinta berwarna hitam itu bertuliskan 'Petilasan Eyang Prabu Ciung Wanara Tegal Gundil Bogor Pajajaran'. Terletak di sisi atas pintu masuk.

Bangunan petilasan Ciung Wanara berwarna putih yang terlihat sudah lusuh dengan warna cat yang memudar. Pada halaman depan terdapat patung ayam jantan dan patung seikat padi yang berada tepat di sisi kiri pintu masuk.

Memasuki ruangan terdapat dua ruangan yang difungsikan sebagai musola dan satu ruangan lagi adalah ruangan petilasan. Ada dua petisan diruangan itu yakni petilasan Ciung Wanara dan Ratu Naga Ningrum yang disebut sebagai ibu dari Ciung Wanara.

Dalam ruangan petilasan tak banyak informasi yang bisa didapat hanya ada sebuah tulisan bijak yang konon katanya merupakan tulisan dari sesepuh penjaga petilasan.

"Fangeling ngeling, Cintailah sesama manusia sebagai mencintai dirimu sendiri, hormatilah kesopanan dan berlaku sopanlah kepada siapapun juga, janganlah kamu membenci kepada sesama manusia jika kau ingin dicintai, lenyapkanlah perasaan dan perbuatanmu yang hiri dengki, taanamlah perasaan yang welas asih dalam sanubari mu' begitu kutipan tulisan tersebut.

Penjaga petilasan generasi keempat, Ummi Warni (68) mengaku tak banyak tahu soal cerita dan sejarah petilasan Ciung Wanara ini yang dia tahu tempat itu adalah petilasan tempat seseorang yang dianggap sesepuh.

"Disini tempat kesepuhan yang paling tua disebutnya kata bapak (penjaga petilasan sebelumnya) begitu ini kesepuhan yang paling tua, tempat pertapaannya," ujarnya saat ditemui belum lama ini.

Warni mengatakan orang yang mengetahui tentang sejarah dan cerita soal petilasan adalah bapaknya yang telah meninggal sekira lima tahun yang lalu. Sementara dia sendiri mengaku hanya dititipkan untuk merawat dan menjaga petilasan.

"Ummi disini cuma menjaga saja kalau cerita atau sejarahnya ummi tidak tahu betul hanya bapak yang tahu, ummi dititipkan untuk menjaga petilasan ini oleh bapak, dirawat dan jangan sampai disalahgunakan, banyak memang yang datang kesini nanyain sejarahnya tapi ummi bilang ummi tidak tahu, ummi hanya menjaga saja," katanya.

Dia mengatakan orang yang datang berkunjung biasanya adalah mahasiswa, dan orang yang sengaja datang untuk melihat dan mencari informasi soal petilasan.

"Dulu waktu bapak masih hidup banyak sekali yang datang kesini, kalau sekarang sudah agak berkurang, yang berkunjung biasanya orang-orang jauh seperti dari Cirebon, nanya-nanya ke bapak soal sejarah," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Sahlan Rasyidi saat ditanya apakah bangunan tersebut termasuk cagar budaya menjelaskan bahwa jika suatu bangunan berusia diatas 50 tahun maka termasuk cagar budaya.

"Kalau dibangun di atas 50 tahun masuk kategori cagar budaya," katanya saat dikonfirmasi.

Lebih lanjut sahlan juga mengaku bahwa petilasan Ciung Wanara hingga saat ini belum terinventarisir oleh Disparbud Kota Bogor sebagai bangunan yang dilindungi atau cagar budaya.

"Belum (terinventarisir)," katanya singkat.

Reporter Admin
Editor Rizma Riyandi