AYOJAKARTA.COM - Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Moeldoko mengungkap bahwa kepala negara lain antre ingin menemui Presiden Jokowi saat menghadiri KTT G-20.
Moeldoko mengungkap bahwa para kepala negara lain ingin bertemu Jokowi di sela-sela pelaksanaan G-20.
Diketahui bahwa KTT G-20 di Bali diselenggarakan pada tanggal 15-16 November 2022.
Dikutip AyoJakarta.com dari YouTube Kompas TV pada Selasa (15/11/2022), Moeldoko mengungkap bahwa banyak pemimpin negara yang ingin berjumpa dengan Jokowi.
Banyaknya pemimpin negara lain yang ingin menemui Jokowi menyebabkan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, kesulitan dalam membuat jadwal temu.
Baca Juga: Jelang Agenda KTT G20 di Bali, 12 Bandara Ini Akan Beroperasi 24 Jam Layani Tamu Delegasi
Menurutnya, Menteri Luar Negeri menemui kesulitan dalam mengurus jadwal temu pemimpin negara lain yang berencana menemui Jokowi.
Menlu Retno dinilai kewalahan dalam mengurus jadwal permintaan pertemuan antara kepala negara lain dengan Presiden RI ini.
Namun, saat ditanya lebih lanjut ada berapa negara yang ingin bertemu dengan Jokowi, Moeldoko tidak memberikan jawaban pasti.
Dirinya beranggapan belum bisa memberikan angka pasti terkait jumlahnya.
Akan tetapi ia menyatakan banhwa memang banyak kepala negara yang ingin menjumpai Presiden Joko Widodo.
Baca Juga: Jelang KTT G20 di Bali, TNI AU Siapkan 2 Pesawat Hercules
Saat ditemui dalam wawancaranya di sela persiapan KTT G-20, Moeldoko juga mengungkapkan hal berikut ini.
"Ini hebatnya presiden kita ini, semuanya sudah terjadwal sebenarnya tapi banyak sekali yang menginginkan minta waktu kepada Pak Jokowi," ucapnya.
Lebih lanjut Moeldoko menyatakan bahwa sosok Jokowi sangat istimewa di mata pemimpin negara lain.
"Kita harus bangga karena presiden kita di mata para kepala negara luar itu luar biasa sampai kesulitan untuk menteri luar negeri (mengatur pertemuan)," imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Moeldoko juga mengungkap beberapa permintaan khusus yang diinginkan oleh kepala negara yang mengahdiri KTT G-20 di Bali tersebut.
"Berikutnya juga pesawat-pesawat yang ingin mendarat di sini ya dari beberapa negara juga ingin minta dispensasi tapi semuanya sudah direncanakan sehingga nanti mungkin juga ada tidak semuanya bisa terpenuhi," ujar Moeldoko.***