Ekonomi

Raymond Chin Ungkap Risiko Terbesar dari Redenominasi di Tahun 2027, Timing Is Everything

Oleh: Katarina Erlita Selasa 11 Nov 2025, 22:12 WIB
Ilustrasi uang Rupiah. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Kavin Faza)

AYOJAKARTA.COM - Pemerintah tengah menyiapkan rencana redenominasi rupiah yang ditargetkan rampung pada tahun 2027.

Namun, pengamat ekonomi Raymond Chin mengingatkan bahwa proyek ini bukan tanpa risiko besar, terutama jika dilakukan tanpa kesiapan ekonomi dan sosialisasi yang matang.

Dalam kanal YouTube-nya, Raymond menjelaskan bahwa dari sekitar 60 negara yang pernah melakukan redenominasi dalam 100 tahun terakhir, hanya sekitar 10–20 negara yang berhasil.

Baca Juga: Mau Beli Kamera tapi Bingng Milih Antara Fujifilm X-T30 III vs Fujifilm X-M5, Mending yang Mana?

“Kalau momennya salah, bisa hancur lebur,” ujarnya. Ia menilai bahwa keberhasilan proyek ini sangat ditentukan oleh timing atau waktu pelaksanaannya.

Menurut Raymond, banyak orang masih salah kaprah dengan konsep redenominasi. Ia menegaskan, “Redenominasi itu bukan sunnering atau pemotongan nilai uang. Nilainya tetap sama, cuma nol di belakangnya yang dihapus.”

Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1, tanpa mengubah daya beli masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa aspek psikologis masyarakat dan investor asing menjadi faktor krusial.

“Project ini jauh lebih berat bobotnya ke psikologis masyarakat dan psikologis investor asing,” tutur Raymond. Bila sosialisasinya tidak jelas, publik bisa panik karena mengira tabungan mereka berkurang.

Baca Juga: Kupas Tuntas Teori Ketsueki-gata, Benarkah Golongan Darah Mempengaruhi Kepribadian?

Hal inilah yang menyebabkan kegagalan redenominasi di Indonesia pada tahun 1965. Raymond mencontohkan keberhasilan Turki pada 2005 yang menghapus enam nol dari mata uangnya setelah ekonominya stabil.

“Turki sukses karena mereka percaya diri dan sudah siap. Ekonomi mereka kuat dulu, baru redenominasi,” jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan risiko rounding up harga yang bisa memicu inflasi tak sengaja.

“Kalau toko-toko seluruh Indonesia opportunistik, bukan turun tapi malah naik ke atas. Ini kecil tapi dampaknya besar,” katanya. Raymond menutup dengan nada optimis, berharap proyek ini berjalan sukses asalkan dilakukan di waktu yang tepat dan disertai edukasi publik yang luas.

“By 2027 ekonomi kita harus stabil dan punya sosialisasi yang cukup. Jangan panik, uang kalian enggak berkurang. Yang penting eksekusinya tepat,” pungkasnya.

Dengan pandangan kritis ini, Raymond menekankan bahwa redenominasi bukan sekadar proyek kosmetik, melainkan ujian kepercayaan publik terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita