AYOJAKARTA.COM -- Bank Mandiri terus memperkuat kiprahnya sebagai mitra strategis Pemerintah dalam percepatan energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Hingga Kuartal III 2025, pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri pada sektor energi terbarukan telah mencapai Rp13 triliun, tumbuh 29% secara tahunan (YoY).
Lonjakan pembiayaan ini menjadi bukti kuat bahwa Bank Mandiri berkomitmen penuh mendukung agenda ekonomi hijau dan prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong transformasi ekonomi rendah karbon.
Monica Yoanita Octavia, Senior Vice President Environmental, Social and Governance Group Bank Mandiri, menegaskan bahwa seluruh strategi pembiayaan yang dijalankan Bank Mandiri selalu mengikuti arah kebijakan Pemerintah serta prioritas strategis nasional.
Ia menyebut bahwa lembaganya melihat target transisi energi sebagai tanggung jawab bersama antara Pemerintah, sektor keuangan, dan pelaku industri.
Monica menjelaskan bahwa Bank Mandiri secara konsisten mengacu pada roadmap Pemerintah, mulai dari Program Strategis Nasional (PSN) hingga peta jalan transisi energi dalam RUPTL, RUKN, serta berbagai kebijakan sektor energi lainnya.
Dengan menjaga keselarasan tersebut, Bank Mandiri tidak hanya mendorong pertumbuhan portofolio hijau, tetapi juga ikut memperkuat upaya dekarbonisasi nasional.
“Dengan memastikan arah pembiayaan sejalan dengan kebijakan Pemerintah, kami ingin mempercepat proses transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ujar Monica dalam keterangan resmi, Rabu, 27 November 2025.
Monica menambahkan bahwa pembiayaan sektor energi terbarukan memiliki dampak strategis yang jauh lebih luas. Selain menekan emisi gas rumah kaca, pembiayaan ini membuka kesempatan bagi Bank Mandiri untuk mendampingi transformasi bisnis hijau di berbagai sektor industri.
Bank Mandiri hadir sebagai mitra transisi, bukan hanya bagi perusahaan besar, tetapi juga seluruh rantai nilai (value chain) yang terkait. Dengan demikian, ekosistem energi terbarukan di Indonesia dapat tumbuh lebih solid dan saling terintegrasi.
“Pendanaan yang kami salurkan tidak hanya untuk proyek berskala besar. Kami memastikan seluruh elemen pendukung, mulai dari rantai pasok hingga pelaku usaha yang terlibat di lapisan berikutnya, ikut mendapatkan akses pembiayaan. Dengan pendekatan menyeluruh ini, kami ingin menciptakan ekosistem energi terbarukan yang merata, kuat, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam strategi pembiayaan berkelanjutan, Bank Mandiri memberi porsi besar pada pendanaan berbagai proyek pembangkit energi terbarukan seperti:
- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
- Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
- Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro
- Pembangkit Listrik Tenaga Biomass
- Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)
Selain itu, Bank Mandiri juga memperkuat industri pendukung energi baru terbarukan (EBT), termasuk pembiayaan untuk manufaktur panel surya dan fasilitas pengolahan biodiesel, yang menjadi bagian penting dalam pengembangan energi hijau nasional.
Hingga Kuartal III 2025, Bank Mandiri mencatat total pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp310,05 triliun, tumbuh 8,7% YoY. Dari total tersebut, pembiayaan hijau menyumbang Rp159 triliun, meningkat 12% YoY, dan menguasai lebih dari 35% pangsa pasar di antara empat bank besar nasional.
Pertumbuhan pembiayaan ini didukung oleh beberapa sektor prioritas, yaitu:
- Produk Eco-efficient: Rp13,2 triliun, tumbuh 40% YoY
- Energi Terbarukan: Rp13 triliun, tumbuh 29% YoY
- Transportasi Bersih: Rp9,7 triliun, tumbuh 35% YoY
Angka tersebut menunjukkan bahwa Bank Mandiri tidak hanya memperluas portofolio hijau, tetapi juga berperan signifikan dalam mendorong industri menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.