Ekonomi

Perkuat Ekonomi Rakyat, BRI Gelontorkan KUR Rp178,08 Triliun ke Sektor Produksi di 2025

Oleh: Gita Esa Hafitri Sabtu 31 Jan 2026, 20:17 WIB
Perkuat Ekonomi Rakyat, BRI Gelontorkan KUR Rp178,08 Triliun ke Sektor Produksi di 2025

AYOJAKARTA.COM -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali membuktikan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, bank dengan kode emiten BBRI ini mencatatkan performa gemilang dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Tidak tanggung-tanggung, dana jumbo sebesar Rp178,08 triliun telah mengalir deras ke kantong 3,8 juta debitur di seluruh penjuru negeri.

Capaian ini bukan sekadar angka di atas kertas. Penyaluran kredit bersubsidi ini merupakan langkah nyata BRI dalam menyukseskan program Asta Cita, khususnya pada pilar penguatan ekonomi rakyat yang mandiri dan berdaya saing.

Dengan fokus pada sektor produktif, BRI berupaya menciptakan multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penguatan kedaulatan pangan nasional.

Berbeda dengan pola penyaluran kredit konsumtif, BRI secara konsisten mengarahkan bantuan permodalan ini ke sektor-sektor yang memberikan nilai tambah bagi ekonomi riil. Data menunjukkan bahwa lebih dari 60% dari total plafon KUR dialokasikan khusus untuk sektor produksi.

Sektor-sektor tersebut meliputi pertanian, perikanan, industri pengolahan, hingga jasa produktif lainnya. Hal ini mencerminkan keberpihakan BRI terhadap para pelaku usaha yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung penuh agenda prioritas pemerintah. Ia melihat bahwa sektor produktif adalah kunci pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Bank BRI berkomitmen secara berkelanjutan untuk menstimulasi pertumbuhan segmen UMKM agar tetap sehat serta kompetitif sebagai pilar utama ekonomi nasional. Dalam prosesnya, kami tidak hanya memberikan akses modal melalui KUR, tetapi juga memberikan pendampingan agar kapasitas usaha para pelaku meningkat, yang pada akhirnya akan mendongkrak kesejahteraan masyarakat luas," jelas Akhmad.

Jika kita membedah lebih dalam berdasarkan sektor ekonomi, bidang pertanian tampil sebagai kontributor paling dominan.

Sebesar 44,97% atau senilai Rp80,09 triliun dari total KUR BRI terserap oleh para petani dan pengusaha di bidang agribisnis. Secara keseluruhan, sektor produksi menguasai porsi 64,49% dari seluruh dana yang disalurkan.

Pencapaian ini mempertegas peran BRI dalam mendukung program swasembada pangan. Dengan modal yang cukup, para petani dapat meningkatkan produktivitas lahan, membeli bibit unggul, serta memperbarui alat mesin pertanian (alsintan) mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperkuat ekonomi dari akar rumput.

Sebagai lembaga keuangan yang memegang mandat besar sebagai penyalur KUR terbesar di tanah air, BRI tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent).

Meskipun KUR merupakan program pemerintah, perlu diingat bahwa sumber dananya 100% berasal dari dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun dari masyarakat.

Oleh karena itu, setiap rupiah yang disalurkan harus melalui proses seleksi yang transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.

BRI memastikan bahwa kualitas kredit tetap terjaga agar likuiditas bank tetap stabil. Hal ini dilakukan demi menjaga kepercayaan nasabah penyimpan sekaligus memastikan keberlangsungan program KUR di masa depan.

Keberhasilan BRI dalam menyalurkan KUR juga terlihat dari tingkat penetrasinya yang semakin mendalam ke struktur sosial masyarakat. Terjadi tren peningkatan jangkauan akses kredit dari tahun ke tahun yang cukup signifikan.

Berdasarkan data hingga Desember 2025, penetrasi KUR BRI telah mencapai angka yang impresif:

Tahun 2023: 15 dari setiap 100 rumah tangga mengakses KUR BRI.

Tahun 2024: 17 dari setiap 100 rumah tangga mengakses KUR BRI.

Tahun 2025: 18 dari setiap 100 rumah tangga telah memanfaatkan fasilitas KUR BRI.

Secara kumulatif, sejak tahun 2015 hingga penutupan Desember 2025, BRI telah menggelontorkan total dana KUR sebesar Rp1.435 triliun kepada 46,4 juta penerima.

Reporter Gita Esa Hafitri
Editor Gita Esa Hafitri