AYOJAKARTA- Perusahaan tambang PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) hanya mampu mencatatkan laba bersih USD1,64 miliar atau ambles 34,14% (year-on-year) pada 2023. Hal ini terutama dipengaruhi oleh penurunan pendapatan dan lonjakan beban pokok pendapatan.
Dilansir dari financialreview.id, berdasarkan laporan keuangan yang dikutip Jumat (1/3), total pendapatan ADRO sebesar USD6,52 miliar atau mengalami penurunan hingga 19,51% dibandingkan dengan capaian di sepanjang 2022 yang sebesar USD8,1 miliar.
Kinerja income statement ADRO pada tahun lalu juga semakin tertekan oleh beban pokok pendapatan yang melonjak 15,36% (y-o-y) menjadi USD3,98 miliar, sehingga laba bruto untuk Tahun Buku 2023 menjadi USD2,54 miliar atau nyungsep 47,31 persen (y-o-y).
Laba usaha emiten yang dikendalikan oleh PT Adaro Strategic Investment ini tercatat USD2,16 miliar atau terperosok 49,88% (y-o-y) pada Tahun Buku 2023. Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan di 2023 senilai USD2,29 miliar atau terkoreksi 48,88% (y-o-y).
Dengan adanya beban pajak penghasilan pada tahun lalu yang sebesar USD439,41 juta, maka laba tahun berjalan yang dibukukan ADRO menjadi USD1,85 miliar atau melorot 34,63% (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di 2023 senilai USD1,64 miliar atau ambles 34,14% dibandingkan dengan laba bersih di 2022 yang sebesar USD2,49 miliar.
Per 31 Desember 2023, ADRO terpantau bisa menekan jumlah liabilitas hingga 28% menjadi USD3,06 miliar dari posisi per 31 Desember 2022 yang mencapai USD4,25 miliar. Sementara itu, total ekuitas hingga akhir Desember 2023 tercatat USD7,41 miliar atau meningkat 13,48% (y-o-y).
Dengan demikian, total aset perusahaan pertambangan batubara ini hingga akhir Desember 2023 menjadi USD10,47 miliar atau mengalami penurunan 2,88 persen dibandingkan dengan posisi per akhir Desember 2022 yang sebesar USD10,78 miliar. (*)