AYOJAKARTA.COM - Jelang lebaran nanti pasti yang terakhir adalah baju baru, tapi perlu diingat agar tidak membeli pakaian berbahan polyester.
Banyak pakaian yang kita gunakan misalnya legging, baju atau celana olahraga hingga pakaian dalam sebenarnya terbuat dari plastik atau polyester.
Bahan polyester umum digunakan dalam industri tekstil yang terbuat dari plastik PET (Polyethylene Terephthalate).
Merupakan bahan yang sama dengan botol air minum kemasan.
Baca Juga: Penentuan 1 Ramadhan 2025, BRIN: Ada Potensi Perbedaan Jadwal Pemerintah dan Muhammadiyah
Faktanya mengejutkan dari Jurnal ilmiah menunjukan bahwa pakaian berbahan polyester ini selain bisa bikin bau ketek juga berdampak buruk bagi kesehatan.
Berbeda dengan botol plastik yang sering diklaim bebas BPA bahan poliester dalam pakaian seringkali mengandung BPA dalam jumlah yang sangat tinggi.
BPA ini biasanya ditambahkan dalam proses produksi untuk membuat kain lebih kuat dan tahan lama dan elastis
Sayangnya ternyata kandungan BPA dalam pakaian ini bisa sampai 40 kali lipat lebih tinggi daripada batas aman yang direkomendasikan.
Baca Juga: Sedang Berlangsung! Live Streaming Sidang Isbat 2025 untuk Penentuan Tanggal 1 Ramadan
Berikut Efek buruk dari Pakaian Berbahan Polyester yang tinggi BPA jika digunakan terus menerus.
1. Menyebabkan Gangguan Hormonal
BPA dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh terutama juga hormon reproduksi.
2. Dapat Memicu PCOS pada Wanita
BPA dalam Polyester juga banyak dikaitkan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Gangguan hormonal inilah yang bisa menyebabkan menstruasi tidak teratur, sulit hamil, dan masalah kesehatan lainnya.
3. Meningkatkan Risiko Kanker dan juga masalah metabolisme
Paparan BPA dari bahan polyester dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker juga obesitas dan gangguan metabolisme lainnya.
4. Memicu Gangguan Sistem Saraf dan gangguan Imunitas
BPA dari polyester yang terserap ke dalam tubuh juga dapat mempengaruhi sistem saraf dan kekebalan tubuh.
Bahkan efek paling parahnya dapat meningkatkan risiko peradangan kronis dan gangguan kognitif.***