AYOJAKARTA.COM - Pada awal Januari yang lalu, penggemar Apple dihebohkan dengan kabar bahwa iPhone 16 akan dirilis di Indonesia pada bulan Februari.
Tentunya kabar tersebut membuat masyarakat antusias karena ponsel yang mereka inginkan secara resmi akan dijual di Tanah Air.
Namun, memasuki awal bulan Februari, belum ada tanda-tanda bahwa Apple diberikan izin untuk memasarkan iPhone 16 di Indonesia.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa Apple harus memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) supaya bisa menjual produk mereka di Indonesia.
Berdasarkan proposal yang telah diterima Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dinilai belum cukup untuk mendapatkan sertifikasi TKDN.
Artinya, hingga saat ini peredaran iPhone 16 di Indonesia masih terhambat karena adanya perizinan yang belum dipenuhi.
Tentunya masyarakat harus menunggu lebih lama atau membeli iPhone menggunakan jalur tidak resmi yang memiliki resiko yang tinggi.
Sampai saat ini, pemerintah masih menunggu proposal dari Apple untuk berinvestasi dengan skala besar, salah satunya adalah dengan membangun fasilitas manufaktur.
Baca Juga: Terungkap! Inilah 5 Penyebab NRG Belum Muncul di Info GTK Maupun SIMPKB
Dampak iPhone 16 yang Belum Bisa Dijual di Indonesia
Tertundanya perilisan iPhone 16 di Indonesia berdampak bagi berbagai sektor, berikut beberapa dampak yang ditimbulkan:
- Pembeli Harus Menunggu Lebih Lama
Konsumen harus bersabar atau terpaksa mencari alternatif lain, seperti membeli perangkat dari luar negeri yang memiliki resiko terkait garansi dan kompatibilitas jaringan.
- Distributor dan Reseller Mengalami Kerugian
Baik distributor maupun reseller resmi Apple di Indonesia akan mengalami penurunan pendapatan akibat tertundanya penjualan iPhone 16.
- Produk Apple Lainnya Bisa Masuk Indonesia
Perusahaan asal AS itu berpeluang untuk meningkatkan investasi dan mempercepat proses pemenuhan TKDN supaya produk terbaru mereka bisa segera masuk ke pasar Indonesia.
Sampai saat ini, pemerintah masih menunggu proposal baru dari Apple dengan harapan supaya perusahaan teknologi asal AS itu bisa meningkatkan nilai investasinya di Indonesia.
Salah satunya adalah dengan membangun fasilitas manufaktur yang dapat berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja lokal dan pertumbuhan ekonomi nasional.***