AYOJAKARTA.COM - Individu atau orang yang pemarah, seringkali diidentikkan dengan sosok yang pemberani, galak, bengis, atau bahkan tidak manusiawi.
Berbeda dengan marah yang merupakan respon emosional alamiah saat mengalami rangsangan, pemarah lebih mencerminkan kondisi dalam diri pemiliknya.
Seorang dengan sifat pemarah, tanpa sebab atau pemicu yang jelas, seringkali dapat dengan mudah tersulut emosinya dan mendadak mulai berteriak.
Baca Juga: 4 Tips agar HP Tidak Cepat Panas Meski Sering Digunakan
Menurut tinjauan psikologi sikap pemarah yang dimiliki seseorang tidak sekedar karena karena sifat bawaan, tetapi juga karena ada penyebab atau pencetusnya.
Untuk mengenali dan memahami alasan yang tersembunyi dibalik munculnya sikap pemarah, berikut adalah beberapa penyebabnya:
Penyebab Seseorang Pemarah
Penyebab pertama karena adanya proses meniru atau copying dari lingkungan keluarga terdekat maupun lingkaran sosial pertemanan yang terbiasa mengekspresikan amarah.
Individu yang terbiasa dengan melihat atau mendengar emosi berupa kemarahan, akan cenderung menjadi sosok yang juga pemarah.
Kemampuan manusia dalam menyerap suatu informasi baik yang bersifat pengetahuan intelektual atau emosional, akan menjadi bagian dari diri seseorang.
Kesadaran bahwa sifat energi dapat menular, akan membuat individu perlu lebih selektif dalam memilih lingkaran pertemanan.
Baca Juga: Wajib tahu! Spesifikasi Apple iPhone 16 Series: iPhone 16 hingga iPhone 16 Pro Max, Pilih Mana?
Penyebab kedua individu menjadi pribadi pemarah adalah karena adanya luka batin atau tekanan emosional yang terpendam dari pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu.
Karena kurangnya pemahaman tentang psikologi, seringkali orang dengan kondisi luka batin melakukan pengabaian terhadap lukanya.
Selain berharap waktu akan menyembuhkan, melupakan pengalaman buruk seringkali menjadi pilihan utama oleh kebanyakan orang dalam menghadapi luka batin.
Meski terkesan masuk akal, banyak orang tidak menyadari bahwa setiap luka batin akan terus tersimpan dalam pikiran bawah sadar dan mempengaruhi pikiran sadar.
Akibat kondisi ini, tidak jarang individu dengan luka batin akan menumpahkan amarah dan kebencian kepada orang lain yang tidak ada hubungan dengan pengalaman buruknya.
Adapun penyebab ketiga seseorang bisa menjadi individu yang pemarah adalah karena kurangnya kecerdasan emosional dan buruknya kemampuan berkomunikasi.
Berbeda dengan orang bijaksana yang mampu mengenali setiap bentuk atau rasa emosi, seorang pemarah justru menggunakan amarah sebagai perisai atau tameng.
Cara terbaik yang dapat dilakukan oleh individu dengan kecerdasan emosi rendah dan komunikasi buruk adalah menerapkan cara-cara primitif yaitu melampiaskan amarah.
Dengan cara melampiaskan amarah secara sembarangan, orang pemarah akan mudah untuk mendapat perhatian, atau cenderung ditakuti.
Untuk bisa lebih menikmati hidup, cara terbaik untuk bahagia adalah dengan mulai berani berbuat kebaikan kepada diri sendiri. ***