AYOJAKARTA.COM – Pada ranah intelektualitas, nalar merupakan salah satu atribut atau perangkat yang dipergunakan manusia dalam proses menemukan suatu kebenaran.
Meski bagi sebagian manusia substansi tentang kebenaran juga merupakan suatu perkara yang masih perlu diperdebatkan, pertentangan justru terjadi akibat lemahnya nalar.
Individu yang sudah memahami dan menyadari bahwa nalar merupakan konstruksi dari suatu pemikiran, sering disebut sebagai manusia terpelajar atau tercerahkan.
Selain karena dibekali landasan atau tujuan yang sehat dan tersusun rapi, manusia dengan kondisi nalar sehat juga akan cenderung berorientasi pada kebenaran nilai kemanusiaan.
Namun demikian tidak sedikit individu yang justru lebih berorientasi pada kebenaran pribadi atau membela ego, akibat kondisi nalar lemah.
Karena kondisi nalar lemah dapat berdampak besar pada tatanan peradaban dan umat manusia, penting bagi setiap individu memahami ciri-ciri manusia pemilik nalar lemah.
Baca Juga: 5 Tanda Kamu Orang yang Anti Drama, Tak Suka Memancing hingga Membesar-besarkan Masalah
Dengan mengetahui ciri-ciri manusia bernalar lemah, selain dapat memperkecil potensi perdebatan yang tidak bernilai juga membuat setiap individu memahami kualitas pribadi.
Karena merupakan wujud ketidakmampuan mengevaluasi dan mengelola pikiran, ciri pertama dari individu bernalar lemah adalah Anti Kritik.
Individu bermental lemah akan cenderung menganggap kritik sebagai serangan terhadap ego atau bersifat pribadi, sehingga berusaha menutupi sisi inferiornya dengan superior.
Ciri kedua dari individu dengan kondisi nalar lemah adalah kecenderungan atau kebiasaan menerima semua informasi tanpa melalui tahap penyaringan atau tabayyun.
Kebiasaan menerima informasi tanpa rasa skeptis, seringkali menjadi penyebab mudahnya seseorang melakukan fitnah terhadap individu lain.
Agar tidak terjebak dalam pola pikir masyarakat yang sesat dan penuh hasad, penting menyadari bahwa pengetahuan manusia memiliki batas.
Ciri selanjutnya dari individu dengan nalar lemah adalah berpikir sempit, sehingga cenderung melihat suatu fenomena hanya dari satu sudut pandang.
Bagi individu bernalar lemah Kebenaran Sejati adalah setiap pemahaman yang berada di dalam pikirannya, sehingga melahirkan dogma.
Adapun ciri keempat dari individu yang bernalar lemah adalah hanya melihat bagian permukaan atau sampul, sehingga dangkal dari pemahaman sebenarnya.
Bagi individu bernalar lemah, pemahaman yang lahir dari informasi yang tidak disaring adalah bukti sehingga tidak perlu divalidasi atau dipertentangkan.
Akibat kebiasaan mengimplementasikan pola pikir dari keempat ciri sebelumnya, individu bernalar lemah juga akan memiliki ciri kelima yaitu mudah terbawa arus.
Dampak tidak memiliki pendirian kuat dan mudah terpengaruh lingkungan, akan membuat individu bernalar lemah menjadi rentan kehilangan makna esensial sebagai manusia.***