AYOJAKARTA.COM – Dalam interaksi baik antar individu maupun sosial, manipulasi psikologis merupakan salah satu cara berkomunikasi yang diterapkan para manipulator.
Berbekal kecerdasan intelektual namun miskin dengan muatan perasaan dan empati, para manipulator kerap mempraktikan manipulasi psikologis untuk memenuhi ego pribadi.
Dengan menerapkan praktik manipulasi psikologis, para manipulator akan dengan mudah menjadikan korban mengikuti setiap keinginan pelaku.
Baca Juga: Nyesek! Usai Labrak Meri Selingkuhan Suaminya, Aprila Majid Langsung Minta Maaf Karena Hal Ini
Selain membuahkan perasaan tidak nyaman atau insecure, rasa bersalah pada diri sendiri, korban manipulasi juga tidak jarang yang mengalami depresi.
Untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak akibat tindakan dari para manipulator, penting bagi setiap individu mengenali jenis-jenis manipulasi psikologis.
Jenis manipulasi psikologis di urutan pertama yang banyak dilakukan oleh para manipulator adalah Gaslighting.
Gaslighting merupakan kondisi yang membuat korban meragukan realitas hidupnya, akibat mengalami banyak kebohongan.
Tujuan dari manipulasi psikologis ini adalah agar korban selalu dihantui oleh rasa bersalah, sehingga akan semakin mudah dikendalikan.
Playing Victim atau berperan sebagai korban, adalah jenis manipulasi psikologis yang dilakukan para manipulator dengan tujuan memutar balikan fakta.
Baca Juga: Modal Rp500 Ribu Usaha Apa? Ini Dia Ide Bisnis Menarik yang Bisa Dicoba
Dampak dari manipulasi semacam ini, seorang pelaku atau manipulator akan dipandang sebagai korban sedangkan korban justru menjadi pelaku kejahatan.
Jenis manipulasi ketiga yang banyak dilakukan para kaum manipulator adalah Love Bombing atau Bom Cinta.
Pujian, perhatian, janji manis merupakan trik manipulasi yang dimaksudkan agar calon korban bergantung kepada pelaku atau manipulator.
Manipulasi psikologis di urutan keempat yang banyak dilakukan para manipulator adalah Triangulation atau melibatkan pihak ketiga.
Tujuan dari melibatkan pihak ketiga yang dilakukan para manipulator adalah agar mendapatkan superioritas atau dominasi dari korban.
Jenis manipulasi psikologis kelima yang banyak dilakukan para manipulator adalah Guilt Tripping atau Perangkap Rasa Bersalah.
Pelaku manipulasi umumnya memanfaatkan kepedulian dari para korban yang biasanya merupakan individu dengan empati tinggi.
Jenis manipulasi psikologis keenam yang paling sering dilakukan oleh para manipulator adalah The Spaghetti Test atau Mengungkit Kebaikan.
Umumnya manipulator memiliki kecenderungan menggunakan kebaikan sebagai alat untuk bisa menjebak atau mengisolasi korban dalam jangka panjang.
Sehingga setiap kali melakukan kebaikan, para manipulator akan menganggapnya sebagai tiket menagih hutang budi yang wajib dibayar dengan ketaatan seumur hidup.
Adapun jenis manipulasi psikologis yang banyak dilakukan kaum manipulator adalah Moving the Goalpost atau menaikan standar harapan.
Manipulator pada dasarnya adalah individu parasit yang hidup penuh ketergantungan dengan memanfaatkan, mengaburkan atau mengakui pencapaian orang lain sebagai miliknya. ***