Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: Smiling Depression, Kekalutan Jiwa yang Bersembunyi di Balik Senyuman

Oleh: Muhammad Imansyah Selasa 23 Jul 2024, 19:54 WIB
Ilustrasi edukasi psikologi

AYOJAKARTA.COM - Depresi biasanya dikaitkan dengan kesedihan, kelesuan, dan keputusasaan, sering kali divisualisasikan sebagai seseorang yang tidak mampu bangun dari tempat tidur. 

Dikutip dari healthline.com, manifestasi depresi berbeda-beda pada setiap individu. Salah satunya adalah smiling depression atau depresi tersenyum.

Depresi tersenyum mengacu pada mereka yang, meski menderita secara internal, tampak bahagia atau puas secara lahiriah. Mereka mungkin tampak bisa menyesuaikan diri atau bahkan sempurna di mata orang lain. 

Istilah ini tidak secara resmi diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition  (DSM-5), tetapi kemungkinan besar akan diklasifikasikan sebagai gangguan depresi mayor dengan ciri-ciri atipikal.

Baca Juga: Sering Disebut Sebagai Menantu Idaman, Ini 5 Keuntungan yang Didapat Jika Menjadi PNS, Apa Saja?

Gejala Depresi Tersenyum

Dari sudut pandang eksternal, seseorang dengan depresi tersenyum tampak bahagia atau puas. Secara internal, mereka menanggung gejala depresi yang meliputi:

- Kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan

- Perubahan nafsu makan, berat badan, dan pola tidur

- Kelelahan atau kelesuan

- Perasaan putus asa, rendah diri, dan tidak berharga

- Hilangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati

Di depan umum, gejala-gejala ini mungkin tersembunyi, membuat orang tersebut tampak seperti individu yang berfungsi baik dengan pekerjaan tetap, kehidupan sosial yang sehat, dan sikap ceria.

Baca Juga: Partai Nasdem Siap Usung Anies Baswedan di Pilgub Jakarta 2024 Tanpa Syarat dan Mahar, Duet Anies-Sohibul Bakal Terwujud?

Risiko dan Kesalahpahaman

Mereka yang mengalami depresi tersenyum mungkin merasakan:

- Menunjukkan gejala depresi merupakan tanda kelemahan

- Mengekspresikan perasaan sebenarnya akan membebani orang lain

- Mereka tidak mengalami depresi karena mereka tampak baik-baik saja

- Orang lain punya masalah yang lebih buruk, jadi mereka tidak perlu mengeluh

- Dunia akan lebih baik tanpa mereka

Baca Juga: Ide 4 Usaha Peternakan di Desa dengan Potensi Keuntungan Hingga 400 Ribu Per Hari

Tidak seperti gejala depresi pada umumnya yang sering mengakibatkan rendahnya energi, individu dengan depresi tersenyum mungkin mempertahankan tingkat energi normal, kecuali saat sendirian. 

Hal ini dapat meningkatkan risiko bunuh diri, karena mereka mungkin memiliki energi dan motivasi untuk bertindak berdasarkan pemikiran untuk bunuh diri.

Pengaruh Budaya dan Sosial

Stigma budaya dan keluarga dapat memperburuk depresi tersenyum. Mengekspresikan emosi mungkin terlihat seperti mencari perhatian atau menunjukkan kelemahan, sehingga mengarah pada penekanan perasaan yang sebenarnya. 

Laki-laki, yang seringkali berada di bawah tekanan untuk menyesuaikan diri dengan gagasan kuno tentang maskulinitas, cenderung tidak mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.

Peran Media Sosial

Baca Juga: Simak Update Status Bantuan PKH di SIKS-NG Alokasi Juli-Agustus yang Cair di Kartu KKS dan Juli-September yang Cair Lewat Pos

Media sosial dapat menciptakan persepsi yang menyimpang terhadap realitas, dimana kehidupan setiap orang tampak sempurna. Ilusi ini dapat memicu depresi karena tersenyum, karena orang cenderung hanya berbagi momen terbaik mereka secara online, menyembunyikan perjuangan mereka.

Harapan yang Tidak Realistis

Harapan yang tidak realistis dari diri sendiri atau orang lain dapat menyebabkan menyembunyikan emosi yang sebenarnya. Perfeksionisme semakin meningkatkan risikonya, karena individu menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri.

Mendiagnosis Depresi Tersenyum

Mendiagnosis depresi tersenyum merupakan suatu tantangan karena gejalanya yang bertentangan dengan depresi klasik. Banyak orang mungkin tidak menyadari depresi mereka sendiri atau mencari bantuan. 

Baca Juga: 5 Jurusan Kuliah Terbaik untuk Kamu yang Suka Berbisnis dan Calon Pengusaha Muda

Diagnosis biasanya melibatkan seorang profesional medis yang mengevaluasi gejala dan perubahan hidup yang signifikan. Rujukan ke ahli kesehatan mental mungkin diperlukan untuk pengobatan atau psikoterapi.

Perawatan dan Dukungan

Langkah pertama dalam mengatasi depresi tersenyum adalah membuka diri terhadap seseorang, baik profesional, teman, atau anggota keluarga. Berbicara dengan ahli kesehatan mental dapat memberikan strategi penanganan dan pilihan pengobatan yang dipersonalisasi. 

Depresi bermanifestasi dalam berbagai cara, dan penting untuk menyadari bahwa masih ada harapan dan bantuan yang tersedia. Jika kamu mengalami depresi tersenyum, hubungi seseorang. 

Jika kamu mencurigai orang lain menderita secara diam-diam, tawarkan dukungan dan bimbing mereka ke sumber daya yang sesuai. Mencari pengobatan dan tidak mengabaikan perasaan sangat penting untuk menangani kondisi ini.

Ingat, depresi adalah kondisi yang serius namun dapat diobati, dan mencari bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.***

Baca Juga: 3 Ide Bisnis untuk Pelajar Sekolah Menengah, Pastikan Pelajaran di Sekolah Tidak Keteteran

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Imanudin Abdurohman