Gaya Hidup

Jangan Anggap Enteng! Ada 4 Jenis Depresi Mulai dari Kehilangan Tujuan Hidup hingga Trauma Masa Kecil

Oleh: Salman Muhammad Ilham Rabu 10 Jul 2024, 13:47 WIB
Illustrasi. Ada 4 Macam Depresi Jangan Dianggap Enteng Ya

AYOJAKARTA.COM - Depresi adalah kondisi kesehatan mental yang dapat mempengaruhi siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau latar belakang.

Depresi tidak hanya membuat seseorang merasa sedih, tetapi juga dapat mengganggu fungsi sehari-hari dan kualitas hidup seseorang.

Terdapat berbagai jenis depresi yang bisa dialami oleh seseorang, masing-masing dengan penyebab dan gejala yang berbeda.

Baca Juga: Gaji Lulusan Tembus Rp84 Juta! 23 Prodi S1 Bisnis dan Manajemen Terbaik THE AUR 2024, Binus Ungguli 3 PTN

Dalam artikel ini, kita akan membahas empat jenis depresi:

1. Existential Depression

Depresi eksistensial adalah bentuk depresi yang sering kali terkait dengan perasaan kehilangan makna atau tujuan hidup.

Orang yang mengalami depresi eksistensial mungkin mempertanyakan arti keberadaan mereka, tujuan hidup, dan apa yang terjadi setelah kematian.

Hal ini sering kali muncul setelah peristiwa besar dalam hidup, seperti kehilangan orang yang dicintai, krisis identitas, atau perubahan besar dalam hidup.

Gejala-gejala depresi eksistensial dapat mencakup perasaan hampa, kecemasan tentang masa depan, dan kurangnya motivasi.

Untuk mengatasi depresi ini, penting untuk mencari makna dan tujuan dalam hidup, mungkin melalui kegiatan spiritual, pekerjaan yang berarti, atau hubungan yang mendalam.

Konseling dengan terapis yang memahami isu-isu eksistensial juga bisa sangat membantu.

Baca Juga: Binus Unggul! 3 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik versi QS World University Rankings: Suistanabily 2024 

2. Psychological Depression

Depresi psikologis adalah jenis depresi yang disebabkan oleh faktor-faktor psikologis, seperti trauma masa kecil, pengalaman hidup yang menekan, atau masalah hubungan.

Depresi jenis ini sering kali dihubungkan dengan pola pikir negatif dan rendahnya harga diri.

Orang dengan depresi psikologis mungkin memiliki keyakinan yang tidak sehat tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Gejala depresi psikologis meliputi perasaan putus asa, tidak berharga, dan kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.

Terapi kognitif-behavioral (CBT) sering digunakan untuk membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif ini.

Terapi ini fokus pada membantu individu mengembangkan cara berpikir yang lebih positif dan realistis.

Baca Juga: 10 Jurusan D4-S1 Sepi Peminat Universitas Negeri Surabaya dan Daya Tampung Mandiri (TMUBK UNESA) 2024

3. Biological Depression

Depresi biologis adalah jenis depresi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia dalam otak.

Faktor genetik, perubahan hormonal, dan kondisi medis tertentu dapat berkontribusi pada depresi biologis.

Misalnya, gangguan tiroid, defisiensi vitamin, atau penyakit kronis lainnya bisa menyebabkan atau memperburuk depresi jenis ini.

Gejala depresi biologis seringkali mirip dengan jenis depresi lainnya, termasuk perasaan sedih yang mendalam, kelelahan, perubahan nafsu makan, dan gangguan tidur.

Pengobatan untuk depresi biologis seringkali melibatkan penggunaan obat antidepresan yang membantu mengembalikan keseimbangan kimia otak.

Selain itu, terapi fisik dan perubahan gaya hidup seperti olahraga dan diet sehat juga dapat membantu dalam pengelolaan gejala.

Baca Juga: Cuan Besar Modal Terbatas? Buktikan 8 Ide Usaha Kecil Menggiurkan yang Bisa Dilakukan Ibu Rumah Tangga 

4. Situational Depression

Depresi situasional, juga dikenal sebagai gangguan penyesuaian dengan suasana hati tertekan, terjadi sebagai respons terhadap situasi atau peristiwa kehidupan tertentu.

Peristiwa-peristiwa seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, atau penyakit serius bisa memicu depresi ini.

Depresi situasional biasanya bersifat sementara dan berkurang seiring waktu atau ketika situasi membaik.

Gejala-gejala depresi situasional meliputi perasaan sedih, kecemasan, dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan.

Terapi dukungan dan konseling dapat membantu individu mengatasi stres dan mengembangkan strategi yang efektif.

Dukungan dari keluarga dan teman juga sangat penting dalam membantu seseorang pulih dari depresi situasional.***

Reporter Salman Muhammad Ilham
Editor Jinan Vania Barizky