Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: Perbedaan simpati dan empati Berdasarkan Pengertian, Simak Berikut

Oleh: Muhammad Imansyah Minggu 07 Jul 2024, 22:05 WIB
Ilustrasi pengerian serta perbedaan simpati dan empati

AYOJAKARTA.COM - Empati dan simpati adalah aspek penting dari interaksi manusia dan ikatan sosial.

Kualitas-kualitas ini membantu kita terhubung dengan orang lain pada tingkat yang lebih dalam, namun mereka sering kali bingung.

Dikutip dari situs PositivePsychology.com, memahami perbedaan simpati dan empati dapat meningkatkan hubungan dan kecerdasan emosional kita.

Baca Juga: Empati, Simpati dan Apati, Pahami Perbedaan Antara Ketiganya

Akar Empati

Empati terkait erat dengan altruisme. Ketika kita berempati dengan orang lain, kemungkinan besar kita akan membantu mereka.

Sifat ini diyakini berevolusi untuk memotivasi orang tua dalam merawat anak dan kerabatnya.

Seiring berjalannya waktu, empati meluas hingga mencakup orang-orang yang bukan kerabat, sehingga mendukung kerja sama dalam komunitas.

Pengertian Empati

Kamus Cambridge mendefinisikan empati sebagai "kemampuan untuk berbagi perasaan atau pengalaman orang lain dengan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi orang tersebut."

Dalam literatur akademis, empati sering kali mencakup empati afektif (merasakan emosi orang lain) dan empati kognitif (memahami atau membayangkan emosi orang lain tanpa benar-benar merasakannya).

Contoh Empati

Empati dapat diwujudkan dalam berbagai cara, seperti:

- Menangis ketika mendengar penderitaan seseorang.

simpatiBaca Juga: Tes Kepribadian: Kamu Orang yang Tekun Atau Simpati yang Tinggi? Cari Tahu Berdasarkan Gambar Di Bawah Ini

- Berpaling dari layar saat adegan film yang tidak menyenangkan.

- Merasa bahagia ketika teman atau orang yang dicintai bahagia.

Contoh-contoh ini menggambarkan empati afektif, di mana kamu “merasa bersama” seseorang.

Apa itu Simpati

Simpati melibatkan pemahaman dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

Tidak seperti empati, yang mengharuskan kita berbagi atau memahami emosi orang lain, simpati adalah tentang mengungkapkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Pengertian Simpati

Kamus Cambridge mendefinisikan simpati sebagai "(ekspresi) pengertian dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain."

Dalam istilah akademis, simpati sering kali digambarkan sebagai empati yang dipadukan dengan kepedulian terhadap orang lain, yang dikenal dengan istilah “kepedulian empatik”.

Baca Juga: Menurut Primbon Jawa, Inilah 5 Weton yang Disayang Banyak Orang dan Pandai Menarik Simpati, Termasuk Kamu?

Empati vs. Simpati: Memahami Perbedaannya

Perbedaan antara empati dan simpati dapat bergantung pada definisi yang digunakan. Dalam satu pandangan, simpati adalah empati yang dipadukan dengan kepedulian terhadap orang lain.

Perspektif lain melihat simpati sebagai empati kognitif (memahami perasaan orang lain) yang dipadukan dengan kepedulian, tanpa harus berbagi perasaan tersebut.

Hal yang penting adalah bahwa simpati selalu melibatkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, sedangkan empati mungkin tidak.

Misalnya saja, merasakan kepedihan orang lain terkadang bisa menimbulkan "tekanan empatik", yaitu kamu menjadi terbebani oleh ketidaknyamanan dirimu sendiri dan mungkin menghindari orang yang menderita tersebut.

Melampaui Simpati & Empati: Kasih Sayang

Belas kasih melangkah lebih jauh dari empati dan simpati dengan memasukkan keinginan untuk membantu.

Kamus Cambridge mendefinisikan belas kasih sebagai "perasaan simpati dan kesedihan yang kuat atas penderitaan atau nasib buruk orang lain dan keinginan untuk membantu mereka."

Baca Juga: 5 Sifat Orang yang Berkualitas, Salah Satunya Punya Empati Tinggi

Kesimpulan

Memahami perbedaan antara empati dan simpati dapat membantu kita menavigasi hubungan kita dengan lebih efektif.

Empati mencakup berbagi atau memahami emosi orang lain, dan simpati mencakup kepedulian terhadap kesejahteraan mereka.

Dengan mempraktikkan kualitas-kualitas ini secara penuh kesadaran, kita dapat membina hubungan yang lebih dalam dan mendukung orang-orang di sekitar kita melalui edukasi psikologi.***

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Kartika Endah Prihatin