Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: Memahami Sindrom Sarang Kosong, Hidup Selalu untuk Orang Lain

Oleh: Muhammad Imansyah Selasa 02 Jul 2024, 12:21 WIB
Ilustrasi sindrom sarang kosong

AYOJAKARTA.COM - Pernahkah kamu bertanya-tanya untuk siapa kamu hidup selama ini? Banyak orang menghabiskan hidupnya dengan fokus pada orang lain, sering kali merasakan rasa kesepian yang mendalam meski dikelilingi oleh orang-orang terkasih.

Dikutip dari akun TikTok dokter Elvine Gunawan, perasaan ini dikenal sebagai sindrom sarang kosong atau empty nest syndrome.

Apa yang Paling Berharga?

Baca Juga: Tes Kepribadian: Yang Manakah Siluet Anak Perempuan? Jawabanmu Menguak Kelebihan dan Kekurangan yang Tak Disadari

Bagi banyak orang, aspek kehidupan yang paling disayangi adalah:

1. Pasangan yang penuh kasih.

2. Peduli anak.

3. Keluarga besar yang suportif.

Namun, di tengah semua ini, di mana posisimu? Kapan kamu hidup untuk dirimu sendiri?

Kesadaran ini seringkali menimpa perempuan pada usia sekitar 50 tahun, masa dimana “sarang” masih kosong. Fase ini biasa disebut dengan sindrom sarang kosong.

Mengapa Sindrom Kekosongan Terjadi?

Seiring kemajuan kehidupan, peran yang kita mainkan berubah:

- Kewajiban terhadap pasangan terpenuhi.

Baca Juga: Tes IQ: Kamu Seorang Pengamat yang Baik? Temukan 3 Perbedaan pada Gambar Gadis Membawa Gerobak Ini, Uji Kemampuan Observasimu

- Tujuan karier tercapai.

- Anak-anak menikah dan memulai hidup mereka sendiri.

Tiba-tiba, setelah setengah abad, muncullah momen kesadaran: "Selama ini aku hidup untuk siapa?"

Ketika semua orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing, kenyataan pahit muncul: "Aku kesepian selama ini."

Merangkul Sarang Kosong

Memahami sindrom sarang kosong adalah langkah pertama untuk mengatasinya. Sangat penting untuk menyadari pentingnya hidup untuk diri sendiri. Berikut beberapa langkah untuk membantu:

Baca Juga: Hasil Cek SIKS-NG! Status Bansos Bulan Juli 2024 PKH BPNT KKS dan Pos Indonesia Sudah SI dan Siap Cair? Sebagian KPM Terima Saldo Rp400 Ribu

1. Temukan Kembali Minat Pribadi: Lakukan hobi atau aktivitas yang selalu ingin kamu coba.

2. Hubungan Sosial: Bangun jaringan pertemanan yang memiliki minat yang sama.

3. Perawatan Diri: Prioritaskan kesehatan dan kesejahteraanmu.

4. Cari Bantuan Profesional: Terapis dapat membantu mengatasi perasaan ini dan menemukan cara untuk mengatasinya.

Pandangan Psikologis

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Women & Aging menyoroti bahwa sindrom sarang kosong bukan hanya tentang ketidakhadiran fisik anak-anak tetapi juga tentang perubahan identitas dan tujuan.

Perempuan, khususnya, mungkin mengalami kesulitan dalam transisi ini karena mereka sering kali banyak berinvestasi dalam peran pengasuh.

Baca Juga: Bukan karena Masalah Ekonomi! Ini Alasan Ayu Ting Ting Putus dengan Muhammad Fardhana

Menemukan Tujuan Baru

Sebuah studi dalam Journal of Marriage and Family menekankan pentingnya menemukan peran dan aktivitas baru pasca mengasuh anak.

Terlibat dalam pekerjaan sukarela, melanjutkan pendidikan lebih lanjut, atau memulai karier baru dapat memberikan rasa memiliki tujuan dan kepuasan .

Sindrom sarang kosong adalah pengalaman umum, namun bisa menjadi kesempatan untuk menemukan kembali diri sendiri.

Dengan berfokus pada pertumbuhan dan kepuasan pribadi, kamu dapat mengubah fase ini menjadi babak kehidupan yang bermanfaat dan memperkaya.

Memahami dan mengatasi aspek emosional dan psikologis dari transisi ini dapat menghasilkan kehidupan yang lebih seimbang dan memuaskan.***

Baca Juga: 4 Ide Bisnis Tanpa Modal Uang di Era Digital, Salah Satunya Hanya Butuh Handphone dan Internet Saja!

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Imanudin Abdurohman