Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: Validasi Emosi Bisa Jadi Senjata Makan Tuan, Ini Penjelasan Psikiater!

Oleh: Muhammad Imansyah Senin 24 Jun 2024, 14:48 WIB
Edukasi psikologi tentang validasi emosi

AYOJAKARTA.COM - Dokter Jiemi Ardian melalui akun TikTok pribadinya @jiemiardian membagikan pengalamannya membaca buku “Bad Therapy: Why the Kids Aren't Growing Up” karya Abigail Shrier.

Poin utama dari buku ini adalah bahwa penekanan yang terlalu kuat pada pentingnya terapi dan validasi emosional bisa berbahaya, menjadi senjata makan tuan, terutama bagi anak-anak dan remaja.

Buku ini menyarankan bahwa dalam beberapa budaya, segala sesuatu dipandang sebagai masalah, dan setiap masalah emosional diperlakukan sebagai gangguan psikologis yang memerlukan validasi.

Pendekatan ini dapat menjadi masalah, menjadi senjata makan tuan, bagi kaum muda.

Baca Juga: Bisa Dilamar Lulusan SMA! Kemenhub Buka 18.017 Kuota Seleksi CASN 2024, Cek Rincian Formasi di Sini

Memang betul, emosi perlu divalidasi, tetapi jika hanya itu yang dilakukan, anak-anak dan remaja mungkin akan kesulitan memahami kenyataan secara objektif.

Mereka tidak akan belajar tentang konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan.

Bayangkan seorang remaja yang menindas seseorang.

Baca Juga: Unik dan Selalu Mujur! Ini Kelebihan dan Kelemahan Karakteristik Golongan Darah O yang Jarang Diketahui

Mereka mungkin membenarkan perilakunya dengan mengatakan bahwa mereka melakukannya karena disakiti oleh orang tuanya, sehingga perasaan mereka perlu diakui.

Pendekatan ini mengabaikan fakta bahwa tindakan mereka harus mempunyai konsekuensi.

Dengan hanya berfokus pada validasi emosional, kita mungkin kehilangan pelajaran penting tentang disiplin, ketahanan, dan konsekuensi tindakan.

Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan generasi muda yang sehat.

Baca Juga: Jalur Zonasi PPDB Jakarta 2024 Resmi Dibuka, Berikut Daftar Referensi 20 SMA Terbaik

Dokter Jiemi tidak mengatakan bahwa validasi emosional itu tidak penting.

Tapi ini seperti berjalan dengan dua kaki: satu kaki adalah validasi emosional, dan yang lainnya adalah ketahanan.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan satu kaki dan berharap bisa berjalan dengan mantap.

Sebagai pembuat konten dan terapis, dokter Jiemi mengingatkan bahwa yang penting bukan hanya emosi atau trauma.

Trauma memang perlu diatasi, begitu pula pertumbuhan, ketahanan, dan pemulihan.

Kuncinya adalah keseimbangan, tandas dokter Jiemi.***

Baca Juga: Masuk Top Peringkat Nasional, Inilah 7 SMA Terbaik di Madiun Jawa Timur berdasarkan Nilai Ujian Tulis

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Imanudin Abdurohman