Gaya Hidup

Psikologi di Balik Ledakan Emosi, Mengapa Kita Gampang Ter-trigger Gegara Masalah Sepele?

Oleh: Sarwendah Minggu 16 Jun 2024, 09:30 WIB
Ilustrasi. Emosi seseorang meledak.

AYOJAKARTA.COM - Dalam kehidupan sehari - hari, seringkali kita mengalami emosional yang meledak – ledak cuma karena masalah sepele.

Apa yang menjadi alasan seseorang gampang marah hanya karena masalah sepele?

Dikutip AyoJakarta.com dari video YouTube Jiemi Ardian, Minggu (16/6/2024), berikut tiga alasan seseorang emosi gegara masalah sepele:

Baca Juga: ALHAMDULILLAH! Bansos Rp600 Ribu hingga Rp1,8 Juta Mulai Cair Serentak Hari Ini, BLT MRP Resmi Disalurkan?

1. Inner child yang terluka

Konsep inner child mengacu pada bagian dalam diri kita yang masih mempertahankan emosi dan perspektif dari masa kecil.

Bagian ini bisa memiliki pengalaman trauma atau perasaan tidak terpenuhi dari masa kecil, seperti ketakutan akan ditinggalkan atau diabaikan.

Ketika situasi saat ini memicu kenangan atau pengalaman yang terkait dengan masa kecil yang menyakitkan ini, inner child bisa teraktivasi dengan kuat, menyebabkan reaksi emosional yang berlebihan.

Baca Juga: 8 SMK Terbaik di DKI Jakarta yang Masuk Top Peringkat Nasional LTMPT Berdasarkan Nilai UTBK, Referensi PPDB 2024!

2. Pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan

Respons emosional yang berlebihan bisa dipicu oleh pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan, seseorang mungkin merasa tidak aman atau terancam dalam hubungan interpersonal mereka.

Hal - hal kecil yang menyerupai pengalaman ini bisa membangkitkan kembali rasa takut, kekhawatiran, atau perasaan diabaikan yang dialami di masa lalu.

Misalnya, ditinggal tidur oleh pasangan bisa mengaktifkan memori akan pengalaman di masa kecil seseorang merasa tidak dihargai atau ditinggalkan oleh figur otoritas.

Respons emosional yang berlebihan ini bukanlah reaksi terhadap situasi secara langsung, tetapi lebih kepada makna dan perasaan yang terkait dengan pengalaman masa lalu.

3. Keterbatasan ego dewasa

Meskipun kita bisa menyadari bahwa situasi tersebut sebenarnya tidak begitu penting, namun bagian dalam diri kita yang lebih emosional tidak mampu mengelola respons emosional dengan cara yang proporsional.

Bagian ini lebih cenderung bereaksi berdasarkan pengalaman dan perasaan yang belum terselesaikan, daripada berdasarkan penilaian logis.

Mengelola trigger merupakan bagian penting dari pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan emosional.Dengan mengenali dan bekerja dengan inner child yang terluka, kita dapat mengurangi intensitas dari trigger.***

Reporter Sarwendah
Editor Desi Kris