Gaya Hidup

5 Psikologi Orang yang Suka Pamer dan Menghina Orang Lain, Jiwanya Sedang Terluka?

Oleh: Sarwendah Senin 03 Jun 2024, 15:55 WIB
Ilustrasi 5 psikologi orang yang suka pamer dan menghina orang lain.

AYOJAKARTA.COM –Di era media sosial, fenomena memamerkan kekayaan menjadi semakin umum dan sering dilakukan oleh beberapa orang.

Dari foto liburan mewah hingga koleksi barang bermerek, banyak orang merasa perlu membagikan pencapaian materi mereka kepada dunia.

Apakah ini semata - mata keinginan alami untuk diakui, atau ada aspek psikologis yang lebih dalam?

Dilansir AyoJakarta.com dari video YouTube Kuliah Psikologi yang diunggah 25 Oktober 2020, berikut lima psikologi orang yang suka pamer dan menghina orang lain:

Baca Juga: CEK SEKARANG! Fix BPNT Cair Dobel Mulai 3 Juni 2024 di KKS Serentak untuk Daerah Berikut Ini

1. Dorongan alamiah

Memamerkan kekayaan bisa dilihat sebagai bagian dari sifat dasar manusia untuk mendapatkan pengakuan dan validasi dari orang lain.

Menurut teori kebutuhan manusia dari Abraham Maslow, kebutuhan akan penghargaan (esteem) menempati posisi penting setelah kebutuhan dasar seperti fisiologis dan keamanan.

Dengan memamerkan kekayaan, seseorang mungkin mencari pengakuan, penghormatan, dan validasi dari orang-orang di sekitarnya.

2. Kurangnya kepuasan dan syukur

Namun, ada sisi lain dari perilaku ini. Orang yang suka memamerkan kekayaan mungkin belum benar-benar menikmati dan mensyukuri apa yang dimilikinya.

Mereka merasa perlu memamerkan kekayaan agar merasa bahagia, seolah-olah kepemilikan itu sendiri belum cukup memuaskan tanpa pengakuan eksternal.

Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan mereka bergantung pada tanggapan orang lain, bukan pada kepuasan internal.

Sebaliknya, ada orang yang kaya tetapi tidak memamerkan kekayaannya.

Mereka sudah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang dimiliki, sehingga tidak ada dorongan untuk menunjukkan kekayaan mereka kepada orang lain.

Kebahagiaan mereka datang dari rasa syukur dan menikmati apa yang dimiliki tanpa perlu pengakuan dari luar.

Baca Juga: Daftar Jalur Mandiri Pakai Nilai UTBK? 6 Kampus Ini Bisa Banget Gunakan Skor UTBK, Catat Jadwalnya Ya!

3. Motivasi dibalik pamer

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa memamerkan kekayaan bisa memotivasi orang lain.Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang siap melihat pameran tersebut. Ada yang merasa tertekan atau iri.

4. Kepedulian terhadap orang lain

Sebagai manusia, kita memiliki tanggung jawab sosial untuk peduli terhadap perasaan orang lain.

Pamer kekayaan tanpa mempedulikan dampaknya pada orang lain bisa dianggap kurang bertanggung jawab secara sosial.

Dalam situasi tertentu, memamerkan kekayaan bisa membuat orang lain merasa sedih atau minder, terutama mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

5. Memiliki trauma di masa lalu dan jiwanya masih terluka

Mungkin orang yang suka pamer pernah mengalami penghinaan atau direndahkan di masa lalu, sehingga mereka merasa perlu membuktikan diri melalui kekayaan.

Meskipun ini bukan alasan yang membenarkan perilaku pamer, ini bisa membantu kita lebih memahami dan tidak terlalu kesal dengan mereka.

Baca Juga: Lulusan SLTA Merapat! 8 Instansi yang Buka Formasi untuk Ijazah SMA, Cek Apa Saja?

Cara yang seharusnya dilakukan oleh orang yang suka pamer yaitu:

-Kebahagiaan seharusnya tidak hanya diukur dari apa yang kita miliki, tetapi juga dari proses menuju pencapaian tersebut

Menikmati perjalanan hidup, mensyukuri hal-hal kecil, dan merasa bahagia sejak sekarang adalah kunci kebahagiaan sejati.

Menikmati proses pencapaian memberikan rasa puas yang lebih mendalam dibandingkan kebahagiaan sementara dari pengakuan eksternal.

-Pamer dengan rasa syukur

Jika ingin memamerkan sesuatu, lakukan dengan rasa syukur dan niat untuk menginspirasi orang lain tanpa merendahkan mereka.

Mengembalikan semua keberhasilan kepada Tuhan atau faktor lain di luar diri sendiri bisa menjadi cara yang lebih bijak untuk memamerkan pencapaian.

Dengan begitu, pameran kekayaan dapat dilihat sebagai bentuk syukur dan inspirasi, bukan sebagai kesombongan.

Dengan memahami psikologi di balik pamer kekayaan, bisa menjadi lebih bijaksana dalam berinteraksi di media sosial dan kehidupan sehari - hari.***

Reporter Sarwendah
Editor Jinan Vania Barizky