Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: 5 Mitos dan Kesalahpahaman tentang Psikologi Positif

Oleh: Muhammad Imansyah Rabu 29 Mei 2024, 08:55 WIB
Ilustrasi psikologi positif

AYOJAKARTA.COM - Psikologi positif adalah disiplin ilmu yang berkembang pesat dan muncul dalam psikologi.

Secara teknis, psikologi positif masih dalam masa-masa awal, melewati tanda 25 tahun sejak dimulainya baru-baru ini.

Hal ini dapat dianggap sebagai istilah umum yang mencakup tema dan topik luas yang penting bagi fungsi dan kesejahteraan manusia secara optimal.

Menurut Positive Psychology, popularitas psikologi positif meningkat pesat di dalam dan di luar dunia akademis dalam jangka waktu yang singkat, dan telah melahirkan mitos-mitos dan kesalahpahaman.

Berikut 5 mitos dan kesalahpahaman tentang psikologi positif:

Mitos 1: Psikologi Positif Hanya tentang Menjadi Bahagia

Dalam psikologi positif versi pertama tidak diragukan lagi terdapat fokus pada hal-hal positif dan bagaimana individu dapat memperoleh emosi positif seperti kebahagiaan.

Baca Juga: 10 PTN Terbaik di Indonesia 2024 Versi Webometrics, Ada yang Masuk 1.000 Besar Dunia

Namun, dalam menghadapi reaksi negatif yang signifikan, psikologi positif berkembang, dan mulai mengenali dan menekankan pentingnya “sisi gelap” kehidupan, seperti emosi negatif, pengalaman hidup yang menantang, dan trauma.

Psikologi positif yang baru dan lebih baik ini berfokus pada keseimbangan antara positif dan negatif, dan para peneliti terkemuka mulai mempromosikan pendekatan yang lebih bernuansa dalam mempelajari kesejahteraan.

Baru-baru ini (pada tahun 2021), psikologi positif telah mencapai gelombang ketiga yang telah memperluas cakupan penelitian dan praktik lebih jauh lagi melampaui individu hingga mencakup hubungan, kelompok, komunitas, organisasi, dan masyarakat.

Mitos 2: Psikologi Positif Bukanlah Terapi

Apa itu psikologi positif? Psikologi positif bukanlah sebuah terapi; sebaliknya, ini adalah bidang penyelidikan ilmiah. Namun, terapis dapat memanfaatkan banyak prinsip psikologis positif untuk menginformasikan praktik terapeutik mereka.

Baca Juga: Tes Psikologi: Apakah Kamu Seorang yang Mandiri atau Ulet, Cek di Sini!

Faktanya, psikologi positif sendiri didasari oleh karya para humanis dan psikiater serta psikoterapis terkemuka seperti Carl Rogers dan Viktor Frankl.

Dengan demikian, terdapat hubungan simbiosis antara psikologi positif dan praktik terapeutik, di mana masing-masing bidang telah memberikan informasi dan terus memberikan informasi kepada bidang lainnya.

Lebih khusus lagi, psikoterapi positif dalah intervensi psikologi positif yang bertujuan untuk meningkatkan hasil positif bagi populasi klinis dan nonklinis dan telah mendapatkan daya tarik yang signifikan dalam dekade terakhir.

Mitos 3: Psikologi Positif Sama dengan Berpikir Positif

Psikologi positif tidak sama dengan berpikir positif.

Psikologi positif adalah suatu disiplin ilmu, dimana penelitian dilakukan, dan disiplin terapan, dimana praktisi menggunakan intervensi berbasis bukti untuk membantu berbagai kelompok dan individu.

Baca Juga: 5 Sekolah Kedinasan dengan Jumlah Pendaftar Terbanyak, IPDN di Posisi Pertama

Satu-satunya hubungan antara psikologi positif dan berpikir positif adalah bahwa psikologi positif memasukkan topik optimisme sebagai bidang minat ilmiah.

Optimisme dapat dipahami sebagai memegang keyakinan positif terhadap masa depan seseorang.

Jika kita mengharapkan hal-hal baik terjadi pada kita, kemungkinan besar hal ini akan berdampak pada perilaku kita.

Misalnya, individu akan bertahan dan berusaha mencapai tujuan yang mereka yakini dapat dicapai dan melepaskan diri dari tujuan yang mereka yakini tidak dapat dicapai. Dalam hal ini, berpikir positif dapat memberikan dampak besar pada kesejahteraan kita.

Mitos 4: Psikologi Positif Tidak Ilmiah

Ini sama sekali tidak benar.

Mari kita pertimbangkan terlebih dahulu apa yang menjadikan suatu bidang ilmiah. Pada hakikatnya, sains melibatkan dua komponen utama:

Baca Juga: 10 SMA Negeri Terbaik di Jakarta dengan Rata-rata IIUN Tertinggi, Ada Incaranmu?

- Penelitian yang sistematis dan metodis tentang suatu topik atau masalah

- Protokol praktik yang ketat

Biasanya, standar emas untuk penelitian yang ketat dalam komunitas ilmiah adalah uji coba kontrol secara acak .

Demikian pula, setiap disiplin ilmu yang memiliki fokus terapan, seperti psikiatri, akan memiliki kode etik atau kerangka etika untuk memandu praktisi.

Sekarang kembali ke psikologi positif. Psikologi positif bersifat ilmiah karena banyak peneliti melakukan penelitian yang berkualitas tinggi dan teliti yang ditinjau oleh rekan sejawat di jurnal ilmiah.

Selain itu, terdapat kerangka etika bagi praktisi psikologis positif. Dengan demikian, psikologi positif memenuhi kriteria untuk dianggap ilmiah.

Baca Juga: 7 Tanda Psikologi Seseorang sedang Memikirkan Kamu Diam-diam, Menghindari Eye Contact Salah Satunya!

Mitos 5: Psikologi Positif Hanyalah Self-Help

Psikologi positif bukan sekedar self-help. Sanggahan utama terhadap klaim ini adalah bahwa psikologi positif adalah disiplin ilmu seperti disiplin ilmu lain dalam bidang psikologi yang lebih luas.

Sebaliknya, self-help bukanlah suatu disiplin ilmu atau bidang penelitian ilmiah, dan tentu saja tidak didasarkan pada penelitian atau bukti empiris, sedangkan psikologi positif adalah disiplin ilmu tersebut.

Mengingat bahwa psikologi positif juga dapat dipelajari di tingkat sarjana dan pascasarjana (sarjana, magister, dan lebih tinggi), dapat dikatakan bahwa psikologi positif berada di atas sekadar self-help.***

Baca Juga: Tes IQ: Suka Tantangan Sulit yang Mendebarkan? Temukan 10 Perbedaan di Gambar Orang Main Ski

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Imanudin Abdurohman