Gaya Hidup

5 Tanda Psikologi Seseorang Punya Trauma Masa Kecil yang Tidak Disadari, Apa Kamu Termasuk?

Oleh: Sarwendah Minggu 19 Mei 2024, 18:20 WIB
Ilustrasi 5 tanda psikologi seseorang punya trauma masa kecil.

AYOJAKARTA.COM – Masa kecil seharusnya menjadi masa yang penuh dengan kebahagiaan, belajar, dan bertumbuh bersama orang-orang terkasih.

Tapi, kenyataannya tidak semua orang beruntung. Trauma di masa kecil bisa membawa dampak jangka panjang, bahkan hingga dewasa.

Apakah kamu pernah mengalami trauma masa keci? Coba cek deretan tanda – tanda ini menurut psikologi.

Dilansir AyoJakarta.com dari video YouTube Psych2Go yang diunggah 28 Mei 2022, berikut 5 tanda psikologi orang yang memiliki trauma masa lalu:

Baca Juga: Merasa Mandek Karena Ketidak Seimbangan Jiwa? Inilah 8 Saran yang Perlu Diperhatikan untuk Memulai Pertumbuhan Diri

1. Reaksi kekanak - kanakan saat stres

Saat orang dewasa mengalami stres, mereka biasanya menggunakan cara yang lebih dewasa untuk mengatasinya.

Namun, bagi mereka yang mengalami trauma masa kecil, mereka mungkin tertunda ke pola perilaku kekanak-kanakan sebagai respons terhadap stres.

Ini bisa berupa mengamuk, menangis berlebihan, atau bahkan mengompol, seperti saat mereka masih kecil.

Bahkan bertingkah seperti anak kecil, seperti mengisap jempol atau berbicara dengan suara bayi.

Perilaku ini juga merupakan tanda bahwa orang tersebut terjebak dalam pola asuh masa kecil saat mereka merasa stres atau terancam.

2. Sulit membangun hubungan sehat dan selalu curiga bahkan tidak mudah percaya pada orang lain

Trauma masa kecil dapat membuat orang sulit untuk mempercayai orang lain, karena mereka mungkin pernah dikhianati, diabaikan, atau disakiti di masa lalu.

Hal ini dapat membuat mereka selalu curiga dan waspada terhadap orang lain, bahkan orang yang dekat dengan mereka.

Orang yang mengalami trauma masa kecil mungkin takut ditinggalkan, karena mereka mungkin pernah ditinggalkan oleh orang tua atau pengasuh mereka di masa lalu.

Ketakutan ini dapat membuat mereka sulit untuk berkomitmen dalam hubungan, karena mereka takut terluka lagi.

3. Menghindari konflik

Orang yang mengalami trauma masa kecil mungkin terbiasa untuk selalu menyenangkan orang lain, karena mereka mungkin pernah diajari bahwa itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian.

Hal ini dapat membuat mereka selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri.

Takut beradu pendapat atau mengungkapkan ketidaksetujuan karena mereka mungkin pernah dihukum atau diabaikan ketika mereka melakukannya di masa lalu.

Ketakutan ini dapat membuat mereka selalu berusaha untuk menghindari konflik, bahkan ketika mereka merasa dirugikan.

Lebih memilih diam daripada terlibat dalam konflik karena mereka takut akan konsekuensinya. Hal ini dapat membuat mereka sulit untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain.

Baca Juga: Mau Kuliah di UNY dengan Biaya UKT Terjangkau? Intip 12 Jurusan Termurah Tahun 2024, Ada yang Kurang dari Rp9 Juta

4. Merasa rendah diri

Trauma masa kecil dapat membuat orang merasa rendah diri dan tidak berharga. Hal ini karena mereka mungkin pernah dikritik atau diremehkan oleh orang tua atau pengasuh mereka di masa lalu.

Orang yang merasa rendah diri mungkin selalu meragukan kemampuan diri sendiri dan membutuhkan persetujuan orang lain untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri.

Hal ini dapat membuat mereka terlalu bergantung pada orang lain dan takut untuk mengambil risiko.

5. Terlibat perilaku berisiko

Perilaku berisiko ini bisa menjadi cara mereka untuk mengatasi rasa sakit emosional dari trauma masa kecil.

Adrenalin yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat membantu mereka untuk merasa kebas dari rasa sakit mereka.

Perilaku ini bisa sangat berbahaya dan bahkan mengakibatkan kematian. Jika seseorang terlibat dalam perilaku berisiko, penting untuk mencari bantuan sesegera mungkin.

Ingat, kamu tidak sendirian. Trauma masa kecil adalah pengalaman yang umum, dan banyak orang yang berhasil sembuh dan menjalani hidup yang bahagia.***

Reporter Sarwendah
Editor Jinan Vania Barizky