Gaya Hidup

Tips Psikologi: Perlukah Menyalahkan Orang Tua atas Trauma yang Kita Alami? Simak Penjelasan Psikiater Ini!

Oleh: Muhammad Imansyah Minggu 12 Mei 2024, 06:44 WIB
Ilustrasi Tips Psikologi

AYOJAKARTA.COM - Relasi orang tua dan anak kerap menjadi biang trauma atau luka batin yang mendalam yang terus dibawa sang anak sepanjang hidupnya.

Siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Apakah ada gunanya menyalahkan orang tua yang menerapkan pola asuh yang keliru.

Dilansir dari akun TikTok @jiemiadrian, menurut dokter Jiemi, mengenali kesalahan berbeda dengan menyalahkan.

Baca Juga: Isak Tangis Tengku Dewi Putri Pilih Pisah dengan Andrew Andika Usai Diselingkuhi Berkali-kali: Dia Nggak Kapok-kapok

Seseorang yang sering mendapatkan kekerasan waktu kecil itu kesalahan, tapi berbeda dengan menyalahkan.

Menyalahkan berarti saya meletakkan tanggung jawab atas pemulihan mental kamu pada orang lain yang melakukan kesalahan.

Pada beberapa keadaan, meletakkan tanggung jawab pada pelaku itu mungkin benar. 

Pelaku mungkin perlu dihukum, pelaku mungkin perlu menyesali perbuatannya, korban mungkin perlu mendapatkan keadilan.

Baca Juga: Asuransi Mobil All Risk Terpercaya dan Pilihan Terbaiknya

Di saat yang bersamaan, keadilan tidak cukup untuk membawa perubahan secara personal.

Sikap perilaku kita belum tentu berubah ketika orang meminta maaf atau orang merasa bersalah atas tindakannya.

Kita bisa mengenali itu perilaku yang salah tanpa menyalahkan terus-menerus.

Ketika kita sibuk menyalahkan, sekalipun misalnya orang tersebut berubah, kondisi mentalmu belum tentu berubah.

Baca Juga: Edukasi Psikologi: Kapan Waktu yang Tepat bagi Orang Tua untuk Memvalidasi Perasaan Anak

Kamu tetap perlu melakukan perubahan tanpa mengecilkan keadilan.

Karena jika sampai saat ini perilaku buruk seseorang masih diulang, tentu akan semakin menyulitkan keadaan.

Tidak mengecilkan perilakunya yang salah, itu penting. Tapi di saat yang bersamaan, kita juga perlu mengerjakan apa yang perlu dilakukan dalam pemulihan.

Membangun hubungan yang sehat, memiliki relasi yang aman, membangun kompetensi, memiliki kemampuan regulasi emosi, keseluruhannya perlu dibangun saat ini oleh dirimu sendiri.

Orang lain tidak bisa melakukan semua itu untukmu. 

***

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Maria Wulan