Gaya Hidup

Fakta Psikologi Orang yang Broken Home, Ternyata Sering Merasa Seperti Ini

Oleh: Nisrina Harum Lestari Sabtu 11 Mei 2024, 14:02 WIB
Fakta Psikologi Orang yang Broken Home, Ternyata Sering Merasa Seperti Ini

AYOJAKARTA.COM -- Anak broken home diartikan sebagai anak yang keluarganya berantakan atau kedua orang tuanya bercerai.

Kondisi keluarga tidak utuh tentu membawa dampak, khususnya terhadap psikologis anak.

Bahkan, kasus perceraian orang tua juga bisa menimbulkan trauma pada anak.

Baca Juga: Inilah Sekolah Kedinasan Non Militer Tanpa Tes Fisik dan Tak Ada Syarat Tes Kesamaptaan, Tertarik Daftar?

Dampak yang dialami dan dirasakan oleh anak-anak broken home akibat perceraian orang tua beragam.

Biasanya mereka akan merasa kehilangan hingga sulit membangun hubungan emosional dengan orang lain.

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai fakta psikologi tentang orang yang hidup di lingkungan broken home.

Berikut adalah fakta psikologi orang yang broken home yang dikutip dari akun TikTok @hanapxats5a.

Baca Juga: Cara Mudah Hapus File Sampah Tersembunyi di Android, Memori Penyimpanan Auto Lega dan HP Tidak Lemot!

1. Merasa kehilangan

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan broken home kerap mengalami perasaan kehilangan karena perpisahan orang tua mereka. Mereka mungkin merasa sedih, bingung, dan terluka karena keadaan tersebut.

2. Adanya ketidakpastian

Kehidupan dalam broken home seringkali ditandai oleh ketidakpastian dan kurangnya stabilitas.

Anak-anak yang mungkin merasa tidak aman karena tak memiliki kepastian tentang masa depan dan perubahan yang terjadi di sekitar mereka.

3. Sulit membentuk hubungan

Individu yang tumbuh dalam lingkungan broken home mungkin mengalami kesulitan membentuk hubungan yang sehat di usia dewasa.

Mereka mungkin memiliki kekhawatiran, ketidakpercayaan, atau kesulitan dalam membangun ikatan emosional yang mendalam dengan orang lain.

4. Penurunan harga diri

Anak yang tumbuh di lingkungan broken home mungkin mengalami penurunan harga diri. Mereka merasa tidak diinginkan, bersalah, atau bertanggung jawab atas kegagalan hubungan orang tua mereka.

Baca Juga: Update Pencairan KJP Plus Mei 2024, Diprediksikan Akan Cair pada Tanggal Ini

5. Sulit mengatasi konflik

Orang yang hidup di lingkungan broken home mungkin menghadapi kesulitan dalam mengatasi konflik.

Mereka memiliki pengalaman pertengkaran dan ketegangan di masa kecil mereka yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengelola konflik secara sehat di masa dewasa.

6. Risiko terhadap masalah mental

Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan broken home memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesejahteraan mental. Seperti depresi, kecemasan, dan perilaku tidak sehat.

Baca Juga: Jurusan IT Apa yang Tepat? Ini Beda Jurusan Kuliah Teknik Informatika, Teknik Informasi, dan Sistem Informasi

Demikian informasi mengenai fakta psikologi orang yang broken home. Semoga bermanfaat.***

Reporter Nisrina Harum Lestari
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil