AYOJAKARTA.COM - Ada berapa banyak saat-saat penting dalam hidup kita yang diritualkan, salah satunya adalah hari kelulusan dari sekolah atau pendidikan.
Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa orang secara tidak sadar menganggap tindakan ritual menyebabkan perubahan nyata di dunia.
Tanpa adanya ritual peralihan, sebuah transisi penting mungkin terasa kurang nyata dan signifikansinya berkurang.
Baca Juga: Simak! Fakta Menarik Jurusan Teknik Sipil yang Perlu Kamu Ketahui, Simak Apa Saja?
Ritual peralihan
Sejak masih dalam kandungan hingga liang lahad, momen-momen terpenting dalam hidup kita kerap diritualisasikan.
Dari peristiwa penting pribadi seperti ulang tahun dan pernikahan hingga perubahan sosial seperti peralihan kekuasaan pemerintah, semua transisi besar diselimuti oleh upacara.
Fakta bahwa ini terjadi di semua peradaban manusia menunjukkan pentingnya ritual-ritual ini.
Baca Juga: Tips Android: Matikan 3 Fitur Ini agar HP Aman, Nomor 2 Wajib Digunakan untuk Hindari Hacker!
Antropolog Arnold van Gennep menyebut upacara ini sebagai “ritual peralihan”.
Dia mencatat bahwa di berbagai budaya, mereka memiliki struktur yang serupa dan mencapai hasil yang serupa.
Ritual peralihan biasanya melibatkan tiga tahap.
Pertama, kita dipisahkan dari cara hidup kita sebelumnya, baik secara fisik maupun simbolis, menuju status dan identitas baru.
Misalnya, warga sipil meninggalkan rutinitas mereka dan menjauh dari teman dan keluarga untuk bergabung dengan dinas ketentaraan.
Mahasiswa pun melakukan hal yang sama ketika meninggalkan kehidupan kampus untuk masuk ke dunia kerja.
Fase kedua adalah periode liminal antar-tahap.
Hal ini ditandai dengan ambiguitas dan ketidakpastian, karena para peserta meninggalkan status mereka sebelumnya namun belum mengambil peran baru mereka.
Baca Juga: Kementerian PUPR Buka 26.319 Kuota Formasi CPNS dan PPPK 2024, Intip Bocoran 9 Formasi Utamanya!
Selama periode tersebut, seorang taruna militer mungkin merasa bukan sebagai warga sipil atau tentara; seorang mempelai wanita yang belum lajang dan belum menikah; dan calon bukan pelajar maupun lulusan.
Pada tahap ketiga, transisi selesai dan orang yang diinisiasi dileburkan kembali ke dalam masyarakat dengan status mereka yang baru.
Inisiasi militer mengubah warga sipil menjadi tentara, opspek mengubah siswa SMA menjadi mahasiswa.
Baca Juga: RESMI! Ada Tes Fisik di SPMB 2024 POLSTAT STIS, Inilah Aturan Tes Kesamaptaan yang Diujikan
Ritual dapat membentuk realitas sosial
Secara tidak sadar orang menganggap tindakan ritual menyebabkan perubahan nyata di dunia.
Inilah sebabnya mengapa perubahan kecil sekalipun dapat meninggalkan kesan kegagalan.
Ketika Presiden Barack Obama mengucapkan kata-kata sumpah jabatan dengan urutan yang salah, legitimasi kekuasaannya dipertanyakan.
Akhirnya, dia harus mengulangi sumpah jabatannya.
Inilah sebabnya mengapa ritual menyertai semua transisi khusus dalam hidup kita.
Semakin penting sebuah momen, semakin banyak kemegahan yang ditampilkan.
Kemegahan dan formalitas upacara mengaktifkan proses psikologis terkait cara kita menilai dunia.
Ritual yang penuh kemewahan menandakan bahwa ini adalah momen yang patut dikenang.
Wisuda
Tidak semua orang peduli dengan upacara wisuda. Beberapa lulusan memilih untuk tidak menghadiri upacara kelulusan.
Namun, sebagian besar mahasiswa yang lulus peduli dengan seremoni ini, demikian pula keluarga mereka.
Lulus dari perguruan tinggi menjadi salah satu transisi terpenting dalam kehidupan banyak orang.
Kelulusan dari perguruan tinggi memberikan perubahan radikal dalam gaya hidup, hubungan sosial, dan peran mereka secara keseluruhan dalam masyarakat.
Sebuah ritual memainkan peran penting dalam membentuk identitas kelompok.
Bahkan pendapat yang mengatakan bahwa sekelompok individu benar-benar menjadi bagian dari suatu kelompok adalah ketika mereka melakukan ritual kolektif.
Sekelompok mahasiswa berkumpul sebagai satu kesatuan untuk mengambil bagian dalam sebuah permulaan.
Wisuda tidak hanya mencerminkan kesakralan pendidikan dan pentingnya prestasi, namun juga ikatan lulusan dengan institusi dan sesama sarjana.***