AYOJAKARTA.COM — Sebagaimana telah menjadi rahasia umum, kiamat merupakan sebuah peristiwa yang membawa dampak kemusnahan bagi penghuni alam semesta.
Dalam berbagai ajaran agama serta kepercayaan, kabar akan terjadinya peristiwa kiamat juga telah berulang kali menjadi percakapan.
Selain digaungkan oleh pemuka agama atau aliran kepercayaan tertentu, wacana mengenai terjadinya kiamat juga pernah dinyatakan oleh para ilmuan dan tokoh kenamaan.
Dikutip dari kanal YouTube Al Manhaj, seorang Ahli Demografi merangkap Ekonom di abad 18 bernama Thomas Malthus, merupakan salah satu tokoh yang sempat memprediksi tentang terjadinya kiamat.
Dalam pandangannya, Malthus mempercayai kiamat akan terjadi saat jumlah populasi umat manusia tidak lagi sebanding dengan ketersediaan sumber daya alami di bumi.
Tingginya angka kelahiran yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, menurut Malthus akan menjadi pencetus lahirnya persoalan komunal.
Karena makan merupakan kebutuhan, minimnya sumber daya makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan merupakan dampak langsung meningkatnya populasi umat manusia.
Dalam jangka waktu tertentu, persoalan tersebut akan semakin memuncak dan mendorong umat manusia menuju kehancuran bersama atau kiamat karena bencana kelaparan.
Namun sejalan dengan perkembangan zaman dan penemuan teknologi, prediksi atau peringatan yang disampaikan Malthus menjadi tidak terbukti.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, manusia berhasil melakukan berbagai penemuan untuk bisa menjaga keseimbangan antara persediaan makanan.
Ilmu pengetahuan memperkenalkan manusia pada rekayasa genetika, efisiensi di bidang pertanian dan peternakan, serta secara langsung menyanggah pendapat Malthus.
Selain Thomas Malthus, prediksi mengenai terjadinya kiamat juga datang dari seorang Ahli Fisika asal University of Illinois bernama Heinz Von Foerster.
Dengan menggunakan pendekatan yang serupa dengan Malthus, Foerster memperingatkan umat manusia tentang peristiwa terjadinya kiamat.
Menurut Foerster, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan akan membawa dampak negatif pada lingkungan serta mengganggu sumber daya.
Perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta bencana alam akibat aktivitas manusia menurut Forster merupakan dampak perkembangan teknologi.
Selain berfungsi memecahkan berbagai persoalan, keberadaan teknologi menurut Foerster juga menjadi penyebab paling memungkinkan terjadinya kehancuran.
Akumulasi dari berbagai persoalan yang terjadi di planet bumi, menurut Foerster akan menemui puncaknya dalam beberapa tahun dan relatif singkat.
Baca Juga: Benarkah Sering Terjadi Gempa Adalah Pertanda Datangnya Kiamat? Berikut Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
Eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi dan peningkatan teknologi, menurut pandangan Foerster akan mendatangkan kehancuran besar-besaran atau kiamat.
Dalam pandangannya sebagai seorang Ahli Fisika, Foerster memprediksi hal atau kiamat tersebut akan terjadi pada tahun 2026 mendatang.***