AYOJAKARTA.COM - Diam itu tidak selamanya emas. Kenapa? Kalau kamu diam, orang lain gak akan pernah tau apa yang kamu pikirkan dan rasakan.
Karena bagaimanapun pasangan atau orang sekitar kamu tidak bisa baca pikiranmu.
Orang yang didiemin atau di silent treatment juga akan merasakan tersiksa loh.
Yuks normalisasikan berbicara. Tentunya tanpa harus sinis atau agresif.
Instagram @sabrinamaidaa membagikan tips normalisasi bicara yang dikutip Ayojakarta.com Rabu 1 Mei 2024.
"Sayang, maaf aku tidak bisa mencerna ucapan kamu saat ini. Aku terlalu overwhelming. Kasih aku waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Saat aku sudah membaik dan tenang, mari kita bahas lagi".
Kalimat tersebut dapat disampaikan kepada pasangan ketika sedang dalam pembahasan tertentu.
Sampaikan secara apa adanya.
Bahkan saat marah pun juga bisa disampaikan. Tapi dengan kalimat dan nada bicara yang enak didengar.
Contohnya "Aku bener-bener marah saat ini. Aku tidak mau menyakiti kamu atau tersakiti lebih dalam. Kasih aku ruang untuk memproses, mengendalikan diri aku. Tolong jangan nge-push aku".
Sebaiknya jelaskan apa yang membuat kamu tertekan. Apakah ia sering menelepon? Chat bertubi-tubi tu tekanan seperti apa yang tidak nyaman.
Jika memang belum siap untuk bicara, juga jangan diam saja.
Baca Juga: Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Mei 2024, Cek Trik Ini agar Bisa Libur Panjang!
Sampaikan kalau masih sedih. "Aku tahu kamu sudah meminta maaf. Tapi aku masih belum nyaman. Aku cuma mau kamu bisa memahami aku dan tahu aku masih memproses semua emosi aku."
Di posisi ini, pasangan sebaiknya mendengarkan, memeluk dan memvalidasi apa yang dirasakan. Bahkan meyakinkan terus menerus.
Ketika ingin membahas topik yang dirasa berat dan belum siap juga bisa disampaikan.
"Aku belum siap membahas topik ini. Boleh kita tunda dulu? Hari ini masih panjang, Ada beberapa meeting dan pekerjaan yang perlu kita kerjakan. Sesampainya di rumah, saat kita sudah tenang kita selesaikan."
Baca Juga: 9 Jurusan Kuliah yang Paling Dibutuhkan di Dunia Kerja, Apakah Jurusanmu Termasuk?
Di sini ada ruang dan jeda. Masing-masing pihak bisa mengeksplore emosi yang dirasakan dan tidak dikendalikan impulsivitas.
Ketika didiamkan oleh pasangan, juga bisa langsung utarakan apa yang dirasakan.
"Saat kamu ngediemin aku. Aku merasa diabaikan dan ditolak. Aku sedih, bahkan terkadang aku ingin membalas kamu. Tapi aku sadar ini tidak sehat. Aku gak mau melukaimu atau terluka. Mari kita selesaikan masalah ini dengan lebih sehat."
Kalau kamu diam, pasanganmu akan bingung.
Kalau kamu menghindar, pasangan kamu tidak tahu harus melakukan apa.
Bahkan bisa juga menyerang balik dengan tindakan agresif.
Kalau kamu bingung tanpa mengkomunikasikan, ia pun akan hilang arah.
Maka. cobalah terbuka dan mengkomunikasikan apa yang dirasa dan terjadi.***