AYOJAKARTA.COM - Toxic positivity alias positivitas beracun adalah penekanan berlebihan dan tidak sehat pada sikap positif dan menghindari emosi, pikiran, atau situasi negatif.
Emosi, seperti rasa takut, mengandung informasi penting tentang apa yang kita perlu kita lakukan.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya merasakan emosi negatif asalkan disadari dan dimanfaatkan secara positif.
Bersikap optimis yang tidak realistis dapat menyebabkan kamu menyangkal atau tidak mengakui perasaan dan pengalaman orang lain, sehingga menyulitkan mereka untuk memproses dan mengatasi emosi yang sulit.
Mendengarkan perasaan dan pikiran negatif dengan cara yang suportif dan produktif untuk mengakuinya dan menemukan niat baik dapat menghasilkan perubahan yang luar biasa.
Contoh dari sikap positif yang beracun adalah ungkapan seperti "berpikirlah positif saja", "jangan khawatir, berbahagialah", dan "segala sesuatu terjadi karena suatu alasan".
Contoh percakapan yang baik adalah: "Akhir-akhir ini pekerjaanku sangat menegangkan." Tanggapan: “Kamu beruntung punya pekerjaan.”
Untuk memberikan dukungan dan bersikap positif tanpa menjadi racun, penting untuk memvalidasi dan mengakui perasaan dan pengalaman orang lain, daripada mencoba mengabaikan atau meminimalkannya.
Ini berarti mendengarkan apa yang mereka katakan, berempati dengan perasaan mereka, dan menawarkan dukungan dan pengertian.
Penting juga untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman berbeda dan tidak semua orang akan merespons hal yang sama secara positif.
Baca Juga: Update Bansos Hari Ini: 11.843 KPM BPNT Murni di 6 Daerah Bahagia Terima BLT Rp600 Ribu
Berikut beberapa tip untuk memberikan dukungan positif tanpa menjadi racun:
Bersikaplah tulus dan otentik dalam interaksi dengan orang lain. Hindari penggunaan kata-kata klise atau basa-basi yang mungkin tidak relevan atau bermanfaat.
Bersikaplah menerima dan tidak menghakimi perasaan dan pengalaman orang lain. Hindari mencoba memperbaiki atau mengubah perasaan mereka dan menawarkan dukungan dan pengertian.
Doronglah orang lain untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka serta mencari bantuan jika mereka memerlukannya. Hindari menyuruh mereka untuk “berpikir positif” atau “berwajah bahagia”.
Baca Juga: Tes Psikologi: Apakah Kami Seorang Introvert atau Teman yang Tulus, Temukan melalui Gambar Ini
Waspadai kesejahteraan emosionalmu dan carilah dukungan jika diperlukan. Hindari memaksakan diri sendiri atau orang lain terlalu keras untuk bersikap positif dan sadari bahwa terkadang tidak masalah jika memiliki emosi negatif.
Hubungi pelatih, mentor, atau terapis untuk membantumu menyusun ulang pemikiran dan pola dalam cara kamu mengatasi hal positif dan negatif
Dengan mengikuti tips berikut, kamu bisa memberikan dukungan positif tanpa menjadi racun dan membantu orang lain mengatasi emosi sulit dengan cara yang sehat dan suportif.
Ini bukan tentang menghilangkan pikiran positif atau mengagung-agungkan pikiran negatif, ini tentang menciptakan pola pikir baru untuk menggunakan semua perasaan kita untuk tumbuh dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.
***