Gaya Hidup

Kenali 6 Jenis Kebohongan Menurut Psikolog, Ternyata Ada Kebohongan yang Bermanfaat buat Orang yang Dibohongi Lho!

Oleh: Muhammad Imansyah Sabtu 20 Apr 2024, 14:49 WIB
6 jenis kebohongan menurut psikolog

AYOJAKARTA.COM - Apapun jenis kebohongan, setiap manusia pasti pernah melakukannya sepanjangan hidupnya.

Meskipun konsekuensi langsung dari sebuah kebohongan biasanya minimal jika tidak terdeteksi dan tidak dihukum, namun tetap ada dampak psikologis yang terkait dengannya.

Dilansir dari Forbes.com, ada keseimbangan yang rumit antara kejujuran dan kebohongan yang melibatkan pertimbangan cermat mengenai keuntungan yang bisa diperoleh.

Orang sering kali tergoda untuk berbohong ketika potensi manfaatnya lebih besar daripada potensi kerugiannya.

Sebuah studi tahun 2018 menggambarkan proses psikologis di balik kebohongan berdasarkan dua faktor: penerima manfaat dan motivasi.

Baca Juga: Tidak Perlu Repot ke Bank! Ini Dia Cara Gampang Buka Rekening BCA Secara Online

Keputusan berbohong dipengaruhi oleh penerima manfaat atau orang yang akan mendapat manfaat dari kebohongan tersebut.

Motivasi di balik kebohongan bisa saja untuk mendapatkan hasil yang diinginkan atau mencegah hasil yang tidak diinginkan.

Para peneliti menemukan enam jenis kebohongan berdasarkan alasan yang menyebabkan orang tidak jujur:

1. Kebohongan bermanfaat yang berorientasi pada diri sendiri. Kebohongan tersebut dituturkan untuk memperoleh hasil yang positif bagi diri sendiri.

Misalnya saja mengklaim bahwa sejumlah uang yang ditemukan adalah miliknya sendiri.

2. Kebohongan protektif yang berorientasi pada diri sendiri. Kebohongan ini ditujukan untuk menghindari akibat negatif atau kerugian bagi diri sendiri.

Misalnya, secara keliru menyangkal menabrak mobil lain saat parkir.

Baca Juga: Pendaftaran Kartu Prakerja 2024 Gelombang 66 Resmi Dibuka, Buruan Daftar, Kamu Bisa Dapat Bantuan Rp4,2 Juta Lho!

3. Kebohongan bermanfaat yang berorientasi pada orang lain. Kebohongan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil positif atau mencapai keuntungan bagi orang lain.

Misalnya, berbohong kepada supervisor untuk mendukung klaim rekan kerja yang sakit.

4. Kebohongan pelindung yang berorientasi pada orang lain. Kebohongan ini diucapkan untuk melindungi orang lain dari kerugian atau akibat negatif.

Misalnya, dengan berbohong kepada orang tua bahwa ia baik-baik saja agar mereka tidak merasa khawatir.

5. Kebohongan pareto bermanfaat. Kebohongan ini dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi si pembohong dan juga orang lain.

Baca Juga: Sudah Dibuka! Ini Daftar 59 Perguruan Tinggi yang Membuka Pendaftaran Jalur UM PTKIN 2024

Misalnya memalsukan hasil tugas kelompok seseorang untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.

6. Kebohongan pelindung pareto. Kebohongan ini diucapkan untuk mencegah kerugian pada diri sendiri dan orang lain.

Misalnya, seorang manajer tim memberi tahu atasannya di tempat kerja bahwa mereka tidak dapat memenuhi tenggat waktu yang penting karena masalah teknis, daripada menyalahkan timnya karena tidak menyelesaikan tugas atau mengambil tanggung jawab pribadi.

Terlepas dari alasan orang memilih untuk berbohong, beban psikologis karena berbohong sangat membebani hati nurani.

Sekalipun kebohongan tidak terdeteksi, proses berbohong itu sendiri bisa menjadi aktivitas yang menimbulkan stres.***

Baca Juga: Ketum Projo Budi Arie Sebut Ridwan Kamil Akan Maju di Pilgub Jakarta Jika Anies Baswedan Maju

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Imanudin Abdurohman