AYOJAKARTA.COM - Dilansir dari web Finntix, para ahli mendefinisikan kepribadian terdiri dari tiga komponen utama:
1. Pola kognitif: Bagaimana kamu menafsirkan informasi, memikirkan peristiwa, dan memahami pengalaman.
2. Reaksi emosional: Bagaimana kamu merespons secara emosional terhadap berbagai situasi atau keadaan.
3. Perilaku: Cara kamu bertindak, kebiasaan, dan interaksimu dengan orang lain.
Orang dengan tipe kepribadian berbeda akan berpikir, merasakan, dan bertindak berbeda ketika menghadapi peristiwa yang sama.
Misalnya, bayangkan dua orang dengan kepribadian berbeda dicampakkan oleh pasangannya.
Orang dengan kepribadian A mungkin menafsirkan ini sebagai makna bahwa mereka pada dasarnya tidak dapat dicintai atau tidak layak untuk dicintai.
Mereka mungkin merasakan kesedihan, rasa malu, dan patah hati yang luar biasa.
Mereka mungkin mengatasinya dengan menarik diri dari pergaulan atau mati-matian mengejar mantannya untuk mendapatkannya kembali.
Sedangkan orang dengan kepribadian B mungkin melihat perpisahan sebagai dua orang yang semakin menjauh atau menyadari bahwa mereka tidak cocok.
Mereka mungkin awalnya merasa sedih, tetapi mereka juga menerima bahwa hubungan terkadang berakhir.
Mereka mungkin memfokuskan energinya pada perawatan diri, menghabiskan waktu bersama teman, dan terbuka untuk bertemu orang baru.
Seperti yang kamu lihat, skenario yang sama menimbulkan respons yang sangat berbeda berdasarkan kepribadian masing-masing individu.
Pertanyaannya sekarang adalah dari mana datangnya pola-pola yang membentuk kepribadian itu?
Apa itu metakognisi
Banyak kepribadian kita ditentukan oleh sesuatu yang disebut metakognisi.
Metakognisi adalah kesimpulan dan keyakinan mendalam yang kita kembangkan tentang diri kita sendiri seiring berjalannya waktu.
Keyakinan inti ini bertindak sebagai filter yang melaluinya kita menafsirkan informasi dan pengalaman baru.
Baca Juga: Bingkai Kacamata Ternyata Dapat Mengungkap Kepribadian Pemakaianya Lho, Simak Penjelasannya Berikut!
Misalnya, bayangkan seorang anak yang mengalami kesulitan sosial. Mungkin mereka dipilih terakhir untuk olahraga tim atau tidak disertakan dalam acara sosial.
Akibatnya, mereka mulai membentuk metakognisi “Saya tidak disukai.” Ini menjadi sebuah lensa yang melaluinya mereka memandang diri mereka sendiri dan dunia.
Bertahun-tahun kemudian setelah dewasa, keyakinan ini terus memengaruhi kepribadian mereka.
Ketika rekan kerja tidak mengundang mereka makan siang, mereka berpikir “itu karena saya tidak disukai.”
Baca Juga: Jessica Wongso Diduga Korban Mafia Hukum, Rismon Sianipar Desak Negara Turun Tangan
Ketika temannya membutuhkan waktu beberapa jam untuk membalas pesan WhatsApp, mereka berasumsi “dia tidak ingin berbicara dengan seseorang yang tidak disukai seperti saya”.
Metakognisi ini, keyakinan mendalam bahwa mereka tidak disukai, membentuk cara mereka menafsirkan peristiwa dengan cara yang menegaskan gagasan ini.
Hal ini juga mempengaruhi emosi mereka, membuat mereka sering merasa malu, sedih, dan tidak aman.
Baca Juga: 4 Psikologi Kepribadian Seseorang dengan Muka Judes yang Cocok untuk Segera Dinikahi
Seiring berjalannya waktu, hal ini juga berdampak pada perilaku mereka.
Mereka menarik diri dari pergaulan, menghindari upaya mencari teman baru, dan merasa sangat cemburu terhadap orang yang tampaknya disukai.***