AYOJAKARTA.COM - Semua orang ingin hidup bahagia. Tapi sayang, tidak semua orang sadar bahwa ada gangguan yang harus disingkirkan agar kita bahagia. Dua di antaranya adalah overthinking dan membandingkan.
Dilansir dari akun TikTok @joyful_yes yang mengunggah konten psikologi positif, kita harus menghindari overthinking dan membandingkan.
Membandingkan di sini adalah melihat perbedaan antara apa yang ada pada diri kita dengan orang lain.
Kita perlu tahu bahwa membandingkan adalah pencuri kebahagiaan.
Penelitian menunjukkan bahwa overthinking menguras sumber daya mental kita.
Membandingkan ke atas membuat kita merasa rendah diri. Membandingkan ke bawah membuat kita merasa lebih unggul dan juga bisa menimbulkan rasa bersalah.
Mengontrol pikiran-pikiran ini memberdayakan kita menuju kesejahteraan yang lebih baik.
Overthinking dan membandingkan tidak memiliki tempat dalam kehidupan yang penuh kesadaran.
Ketika pikiran-pikiran itu muncul, kita hanya bisa berhenti sejenak dan berkata dalam hati, “Ya, ada pikiran itu lagi.”
“Ya, aku tahu bahwa aku tidak harus mempercayai setiap hal yang aku pikirkan, jadi aku akan membiarkan pemikiran itu pergi. Ini benar-benar tidak berguna lagi buatku.”
Kata kuncinya adalah kesadaran dan berhenti sejenak.
Kita harus sadar bahwa ada pikiran yang berputar-putar di otak kita dan berusaha mencuri kebahagiaan kita.
Saat itu terjadi, berhentilah sejenak, hirup udara segar dalam-dalam, untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut.
Masalah yang datang untuk diatasi, bukan untuk dipikirkan. Kita memikirkan masalah untuk mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Setelah ada beberapa alternatif solusi, selanjutnya adalah melakukan aksi. Aksi inilah yang akan menghentikan pikiran-pikiran tersebut mengendap di kepala kita.
Ada cerita lucu yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran tentang cara mengatasi overthinking ini.
Ketika seorang mahasiswa duduk termenung di kantin dan ditanya oleh temannya, kenapa dia termenung, mahasiswa itu menjawab, “Aku lagi memikirkan skripsi.”
Sepintas jawaban mahasiswa itu lazim dan benar, bukan? Tapi apa jawaban dari temannya sangat menggelitik, “Skripsi itu jangan dipikirkan, tapi dikerjakan!”.***