Gaya Hidup

Ternyata Ini Nilai Filosofi Bahasa Jawa di Balik Angka 11, 21, 25, 50 dan 60, Sering Disebut tapi Jarang yang Paham Maksud

Oleh: Karseno AJ Kamis 04 Apr 2024, 18:01 WIB
Nilai Filosofi Bahasa Jawa di Balik Angka 11, 21, 25, 50 dan 60.

AYOJAKARTA.COM -- Selain memiliki beberapa tingkatan bentuk rasa hormat dalam berkomunikasi, bahasa Jawa juga menyimpan isyarat hidup yang bersifat ketuhanan.

Misalnya penyebutan angka tertentu yang kerap mempergunakan atau memakai istilah dan kosa kata baru sebagai penanda.

Penyebutan angka 11 atau Sewelas, 21 atau Selikur, 25 atau Selawe, 50 atau Seket, 60 atau Sewidak diyakini memiliki makna filosofi mendalam.

Baca Juga: Edukasi Psikologi: Hubungan Penggunaan Media Sosial dan Kesehatan Mental

Sebagaimana dengan bangsa Nusantara pada umumnya, setiap wilayah di Indonesia memiliki kearifan dan pandangan unik tersendiri menyangkut bahasa.

Karena merupakan hasil kesepakatan bersama, kekayaan bahasa, kelengkapan kosa kata atau istilah merupakan salah satu indikasi atau tanda usia sebuah peradaban tercipta.

Semakin banyak istilah atau bahasa yang dimiliki oleh sebuah bangsa, hal tersebut menunjukkan kematangan peradabannya.

Terkait dengan nilai intrinsik yang tersembunyi di balik angka-angka tersebut, leluhur bangsa Jawa telah memberikan pesan untuk dijadikan sebagai introspeksi diri.

Baca Juga: Pelajari 5 Gaya Parenting atau Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak dan Efeknya pada Sifat Kepribadian hingga Dewasa

Sebagai acuan bagi usia setiap orang, berikut ini adalah makna penyebutan dari angka yang disebutkan dalam bahasa Jawa.

Angka 11 atau Sewelas memiliki arti Seneng Welas Asih, adalah fase pra pubertas di mana seseorang mulai mengenal makna kasih sayang dan mencari jati diri.

Berada dalam usia transisi, seorang anak berusia belasan sangat membutuhkan bimbingan dan contoh baik dari kedua orang tua.

Angka 21 atau Selikur memiliki makna Seneng Linggih Kursi atau menemukan pangkat serta jabatan tertentu sebagai bekal hidup di masa depan.

Baca Juga: Tes IQ: Buktikan Kamu Masih Jeli, Temukan Angka 120 di Antara Angka 102 dalam Waktu 7 Detik

Transisi hidup selanjutnya yang dialami setiap orang adalah saat menginjak di usia 25 atau Selawe, berarti Seneng Lanang lan Wedok atau menyenangi lawan jenis.

Usia 25 menurut filosofi Jawa telah dianggap cukup matang untuk mulai menjalani peran dan tanggung jawab sebagai manusia dewasa yang bermanfaat.

Usia 50 atau Seket berarti Seneng Kethonan atau menggunakan penutup kepala, yang berarti perlu menutupi timbunan uban atau juga harus semakin banyak beribadah.

Berada dalam usia yang sudah tidak lagi muda, pemilik usia 50 tahun tidak lagi harus memikirkan perkara dunia karena semakin senja.

Baca Juga: Ilmu Psikologi: Ini Tipe Orang yang Pura-Pura Baik Padahal Licik di Belakang

Usia 60 atau Sewidak yang berarti Sejatine Wis Kudu Tindak atau bersiap-siap menyambut datangnya kematian, merupakan bagian dari ajaran Sangkan Paraning Dumadi.

Istilah Sangkan Paraning Dumadi atau memahami kesejatian diri untuk bekal kembali ke Asal, juga merupakan salah satu kewajiban setiap manusia.

Meminjam istilah Arab sebagaimana disebut dalam Al Quran, bahasa Jawa Sangkan Paraning Dumadi sering pula diartikan Innalilahhi wa inna ilaihi rojiun.***

Reporter Karseno AJ
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil