Gaya Hidup

Apakah Secara Psikologi Psikopat Benar-benar Bahagia? Kesaksian Penyintas Psikopat Tentang Kesenangan Orang Lain Membangkitkan Rasa Iri dan Serakah

Oleh: Sucipto Minggu 31 Mar 2024, 10:34 WIB
Ilustrasi psikopat

AYOJAKARTA.COM - Seringkali muncul pertanyaan, apakah secara psikologi psikopat benar-benar merasakan kebahagiaan.

Psikologi psikopat tidaklah mengalami kesenangan dengan merespon kesenangan orang lain secara empatik.

Psikologi psikopat, secara naluriah akan memandang kebahagiaan orang lain dengan penuh rasa iri dan kedengkian.

Winifred Rule, seorang penyintas psikopat, menuliskan pengalaman ini pada Psychology Today, yang dilansir oleh ayojakarta.com.

Baca Juga: Mengenal Ivy League, 8 Kampus Terbaik Amerika Serikat, Bagaimana Asal Usul Terbentuknya? Siapa Saja Tokoh Indonesia yang Pernah Belajar di Sana?

Tidak Ada Kegembiraan

Winifred memiliki seorang ibu dan saudari yang memiliki psikopat tingkat tinggi.

Dia dapat melihat perbedaan mendalam pada reaksi mereka dibandingkan orang lain.

Di balik tawa dan kata-kata mereka yang meluap-luap, secara emosional terlihat datar dan acuh tak acuh.

Hal ini khususnya tampak jelas pada saat-saat yang secara umum dianggap sebagai momen yang menyenangkan.

Winifred mengatakan bahwa saat-saat yang menyenangkan baginya bukanlah saat-saat yang menyenangkan bagi mereka.

Ekspresi wajah, nada suara, dan postur tubuh mereka menunjukkan ketidaktertarikan dan tidak menunjukkan emosi.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Yakin Bahwa Dirimu Adalah Orang Yang Memiliki Pikiran Kritis? Buktikan Dengan Mengikuti Tes Kepribadian Ini

“Ketika saya mengamati wajah mereka pada saat-saat yang menyenangkan, mereka tidak pernah terlihat bahagia. Kata-kata mereka yang nyaring dan riuh serta tangan mereka yang bergerak-berak, seakan-akan mempercayai hal itu, tetapi jika diamati lebih dekat, menunjukkan bahwa meskipun mereka menunjukkan semangat, tetap saja tidak ada kegembiraan.”

Hakikat Kebahagiaan

Menurut Rebekkah Fruzac, kepala di Mayo Clinic Health System, mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sebuah emosi, dan kesenangan adalah sebuah kondisi.

Kebahagiaan dapat berubah dari hari ke hari, sedangkan kesenangan memiliki akar jauh di dalam diri.

Agama-agama di dunia mencatat bahwa kegembiraan memiliki sifat paradoks.

Kesenangan dapat tumbuh subur bersamaan dengan penderitaan yang hebat.

Baca Juga: Gajah Atau Pemukiman? Gambar Pertama Yang Kamu Lihat Akan Mengungkapkan Rahasia Tentang Kepribadian dan Pikiranmu

Kemiskinan Emosional Para Psikopat

Robert D. Hare, peneliti psikopat, telah membahas kemiskinan emosional para psikopat dalam salah satu karya awalnya, Psychopathy: Theory and Practice.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa psikopat pada dasarnya egois dan berpusat diri sendiri.

Mereka tidak memiliki kegembiraan karena mereka tidak dapat mencintai orang lain.

Tidak ada ikatan afeksi, karena ciri-ciri utama psikopat adalah kurangnya perasaan, kasih sayang, atau cinta untuk orang lain.

Kemiskinan Emosional dan Ketiadaan Kebahagiaan

Winifred menceritakan pengalamannya di masa kecil, ketika berkunjung ke seorang tetangga pada sore hari yang cerah.

Baca Juga: Kebakaran Gudang Amunisi Gunung Putri Berhasil Padam, Pangdam Jaya Pastikan Tak Ada Ledakan LagiBaca Juga: Kebakaran Gudang Amunisi Gunung Putri Berhasil Padam, Pangdam Jaya Pastikan Tak Ada Ledakan Lagi

Tetangga tersebut memberikan ibunya banyak pakaian indah.

Pakaian-pakaian itu adalah rancangan dari desainer cukup terkemuka.

“Namun, ketika saya berjalan di sisi ibu saya, dia tetap tidak terpengaruh oleh kegembiraan di rumah tetangga dan pakaian-pakaian yang baru saja dia dapatkan. Wajahnya menunjukkan ekspresi kosong dan saya bertanya kepadanya apakah dia bahagia, dan dia menjawab… Puas.”

***

Reporter Sucipto
Editor Maria Wulan