AYOJAKARTA.COM - Seringkali muncul pertanyaan, apakah secara psikologi psikopat benar-benar merasakan kebahagiaan.
Psikologi psikopat tidaklah mengalami kesenangan dengan merespon kesenangan orang lain secara empatik.
Psikologi psikopat, secara naluriah akan memandang kebahagiaan orang lain dengan penuh rasa iri dan kedengkian.
Winifred Rule, seorang penyintas psikopat, menuliskan pengalaman ini pada Psychology Today, yang dilansir oleh ayojakarta.com.
Tidak Ada Kegembiraan
Winifred memiliki seorang ibu dan saudari yang memiliki psikopat tingkat tinggi.
Dia dapat melihat perbedaan mendalam pada reaksi mereka dibandingkan orang lain.
Di balik tawa dan kata-kata mereka yang meluap-luap, secara emosional terlihat datar dan acuh tak acuh.
Hal ini khususnya tampak jelas pada saat-saat yang secara umum dianggap sebagai momen yang menyenangkan.
Winifred mengatakan bahwa saat-saat yang menyenangkan baginya bukanlah saat-saat yang menyenangkan bagi mereka.
Ekspresi wajah, nada suara, dan postur tubuh mereka menunjukkan ketidaktertarikan dan tidak menunjukkan emosi.
“Ketika saya mengamati wajah mereka pada saat-saat yang menyenangkan, mereka tidak pernah terlihat bahagia. Kata-kata mereka yang nyaring dan riuh serta tangan mereka yang bergerak-berak, seakan-akan mempercayai hal itu, tetapi jika diamati lebih dekat, menunjukkan bahwa meskipun mereka menunjukkan semangat, tetap saja tidak ada kegembiraan.”
Hakikat Kebahagiaan
Menurut Rebekkah Fruzac, kepala di Mayo Clinic Health System, mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sebuah emosi, dan kesenangan adalah sebuah kondisi.
Kebahagiaan dapat berubah dari hari ke hari, sedangkan kesenangan memiliki akar jauh di dalam diri.
Agama-agama di dunia mencatat bahwa kegembiraan memiliki sifat paradoks.
Kesenangan dapat tumbuh subur bersamaan dengan penderitaan yang hebat.
Baca Juga: Gajah Atau Pemukiman? Gambar Pertama Yang Kamu Lihat Akan Mengungkapkan Rahasia Tentang Kepribadian dan Pikiranmu
Kemiskinan Emosional Para Psikopat
Robert D. Hare, peneliti psikopat, telah membahas kemiskinan emosional para psikopat dalam salah satu karya awalnya, Psychopathy: Theory and Practice.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa psikopat pada dasarnya egois dan berpusat diri sendiri.
Mereka tidak memiliki kegembiraan karena mereka tidak dapat mencintai orang lain.
Tidak ada ikatan afeksi, karena ciri-ciri utama psikopat adalah kurangnya perasaan, kasih sayang, atau cinta untuk orang lain.
Kemiskinan Emosional dan Ketiadaan Kebahagiaan
Winifred menceritakan pengalamannya di masa kecil, ketika berkunjung ke seorang tetangga pada sore hari yang cerah.
Baca Juga: Kebakaran Gudang Amunisi Gunung Putri Berhasil Padam, Pangdam Jaya Pastikan Tak Ada Ledakan LagiBaca Juga: Kebakaran Gudang Amunisi Gunung Putri Berhasil Padam, Pangdam Jaya Pastikan Tak Ada Ledakan Lagi
Tetangga tersebut memberikan ibunya banyak pakaian indah.
Pakaian-pakaian itu adalah rancangan dari desainer cukup terkemuka.
“Namun, ketika saya berjalan di sisi ibu saya, dia tetap tidak terpengaruh oleh kegembiraan di rumah tetangga dan pakaian-pakaian yang baru saja dia dapatkan. Wajahnya menunjukkan ekspresi kosong dan saya bertanya kepadanya apakah dia bahagia, dan dia menjawab… Puas.”
***