AYOJAKARTA.COM - Aplikasi video pendek semakin populer. Bukan hanya TikTok, tapi platform berbagi video seperti Youtube atau media sosial seperti Instagram pun memiliki segmen video pendek.
Dikutip AyoJakarta.com (15/3/2024) dari jurnal Psychiatry Research, penelitian terhadap 1.346 remaja di Tiongkok mengungkapkan hasil yang mungkin sudah bisa kamu tebak.
Pengguna yang kecanduan TikTok menunjukkan kondisi kesehatan mental, prestasi sekolah, dan lingkungan keluarga terburuk.
Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Tianjin Normal University dan Center of Collaborative Innovation for Assessment and Promotion of Mental Health, Tiongkok.
Dari ke-1.346 remaja yang menjadi subjek penelitian, 51,8 persen di antaranya adalah perempuan. 199 non-pengguna dan 1.147 pengguna (686 pengguna moderat, 461 pengguna kecanduan).
Pengguna yang kecanduan menunjukkan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan non-pengguna dan pengguna moderat.
Baca Juga: Hati-Hati Salah Link, Ini Cara Cek Penerima Bansos Bulan Maret 2024
Kesehatan mental yang buruk tersebut meliputi tingkat depresi, kecemasan, stres, kesepian, kecemasan sosial, masalah perhatian, dan kepuasan hidup serta kualitas tidur yang lebih rendah.
Pengguna yang kecanduan juga menghadapi stres akademis yang lebih tinggi, prestasi akademis yang lebih buruk, lebih banyak menjadi korban bully.
Mereka juga memiliki hubungan dengan orang tua yang lebih buruk, gaya pengasuhan yang lebih negatif, dan tingkat pendidikan orang tua yang lebih rendah.
Sementara itu, pengguna moderat memiliki lingkungan keluarga yang berbeda dengan non-pengguna, namun tidak ada perbedaan dalam kesehatan mental atau prestasi sekolah.
Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa pengguna kecanduan mengalami situasi yang lebih tidak menguntungkan dalam hal kesehatan mental, keluarga, dan prestasi sekolah.
Sementara non-pengguna memiliki lingkungan keluarga yang menguntungkan.
Mengingat gejala gangguan kejiwaan yang muncul pada pengguna TikTok dan aplikasi serupa yang membuat ketagihan, intervensi dan pengobatan yang ditargetkan sangat diperlukan.***