AYOJAKARTA.COM – Apakah psikopat ditentukan oleh faktor genetik, atau perilaku tersebut berkembang karena pengalaman traumatik?
Sebuah penelitian dari ilmuwan Universitas Vanderbilt menemukan bahwa otak para psikopat sepertinya terprogram untuk terus mencari imbalan dengan cara apa pun.
Para peneliti percaya bahwa temuan mereka membuka wilayah yang lebih baru untuk memahami apa yang mendorong manusia menjadi psikopat.
Dikutip ayojakarta.com dari situs resmi PsychCentral, penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience.
Menurut Joshua Buckholtz, mahasiswa yang terlibat dalam penelitian itu, psikopat sering dianggap sebagai penjahat berdarah dingin.
Seorang psikopat akan mengambil apa saja yang mereka inginkan tanpa memikirkan akibatnya.
Penelitian itu juga menemukan perilaku hiperaktif yang menjadi dasar dari beberapa perilaku paling bermasalah yang terkait dengan psikopat, seperti kejahatan dengan kekerasan, kriminal kambuhan, dan penyalahgunaan zat-zat terlarang.
Sebelumnya, penelitian tentang psikopat berfokus pada apa yang tidak dimiliki oleh pengidapnya, seperti rasa takut, empati, dan keterampilan interpersonal.
Baca Juga: Jimly Asshiddiqie Sebut Tidak Ada Alasan MK Tidak Dapat Dipercaya: Ketuanya kan Sudah Ganti
Namun, penelitian terbaru menunjukan apa yang mereka miliki secara berlimpah, seperti impulsif, hasrat pada imbalan, dan risiko.
Sifat-sifat inilah yang paling erat kaitannya dengan aspek kekerasan dan kriminalitas psikopat.
Penelitian panjang tentang psikopat berfokus pada kurangnya kepekaan terhadap hukuman dan tidak ada rasa takut.
Namun, sifat-sifat tersebut bukanlah alat yang menjadi sarana prediksi yang baik untuk kekerasan atau perilaku kriminal.
Penelitian dari Universitas Vanderbilt tersebut menemukan bahwa psikopat memiliki hasrat yang sangat kuat terhadap imbalan.
Hal ini menyebabkan mereka kehilangan rasa takut akan risiko maupun hukuman yang mungkin saja diterima.
Para sukarelawan yang terlibat dalam penelitian tersebut diberikan tes kepribadian untuk menentukan tingkat psikopat mereka.
Sifat-sifat ini ada dalam sebuah sisi, dengan penjahat paling kejam berada di ujung sisi yang ekstrem.
Namun, orang yang normal juga dapat memiliki sifat-sifat tersebut, manipulatif, egosentris, agresif, dan berani mengambil risiko.
Para peneliti menemukan, bahwa pada individu dengan sifat psikopat, otak mereka akan lebih aktif jika ada ada hadiah uang dibandingkan dengan sukarelawan lainnya.