Wadon Ora Didol, Film Dokumenter Berkisah Tentang Praktek Perkawinan Anak di Indramayu

- Selasa, 5 Juli 2022 | 10:06 WIB
Film Wadon Ora Didol rilis (Istimewa)
Film Wadon Ora Didol rilis (Istimewa)

AYOJAKARTA.COM - Perkawinan anak masih menjadi masalah di Indonesia. Bahkan Indonesia adalah negara ke-2 tingkat ASEAN dan ke-8 dunia dengan jumlah perkawinan anak terbanyak.

Salah satu daerah yang jumlah perkawinan anaknya tinggi adalah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di Indramayu, perkawinan anak memiliki sejarah panjang dan sudah muncul sejak jaman dulu.

Di sejumlah daerah di Indramayu dikenal istilah ‘kawin gantung’. Semacam perjodohan di masa kini, dimana anak-anak berusia 10 tahun dinikah gantung satu sama lain.

Baca Juga: Deretan Film Maxime Bouttier yang Wajib Ditonton, Teranyar Ticket to Paradise

Tradisi yang mendorong banyaknya kasus perkawinan anak di Indramayu juga didorong oleh pandangan bahwa anak perempuan sebagai aset dan kemudian bisa dinikahkan dengan orang kaya untuk mengangkat kehidupan mereka.

Tak heran banyak anak perempuan di usia yang sangat belia dinikahkan (secara paksa) dengan laki-laki pilihan orang tuanya (biasanya dengan status ekonomi lebih baik/kaya) agar bisa mengangkat kesejahteraan keluarga.

Menurut Undang-undang nomor 1 tahun 1974, batas usia perkawinan anak 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan.

Baca Juga: Ticket to Paradise, Film Maxime Bouttier bareng Julia Roberts yang Berlatar Pulau Bali

Tahun 2017, Undang-undang itu dilakukan uji materi (Judicial Review) ke Mahkamah Konstitusi oleh tiga orang perempuan Rasminah, Endang Wasrinah dan Maryanti. Rasminah adalah perempuan Indramayu yang pernah mengalami perkawinan anak saat usia 13 tahun. Hasilnya tahun 2019 uji materi itu dikabulkan.

Halaman:

Editor: Desi Kris

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X